Mantan kapten Chelsea, Cesar Azpilicueta, memutuskan pensiun dari sepak bola profesional dan mengaku kini membutuhkan jeda panjang setelah dua dekade berkarier di level tertinggi. Pria berusia 37 tahun itu menghabiskan musim terakhirnya bersama Sevilla sebelum akhirnya menutup karier bermain, dan ia menilai dirinya sudah tidak lagi punya energi untuk menjalani satu musim penuh dengan komitmen total.
Keputusan tersebut disampaikannya saat berbicara kepada BBC Sport di Emirates Stadium, markas Arsenal, ketika ia menerima diploma di bidang global football sport directorship dari PFA Business School. Momen itu menegaskan bahwa Azpilicueta tidak benar-benar meninggalkan dunia sepak bola, melainkan sedang bersiap untuk peran baru di luar lapangan. Ia bahkan sempat bercanda bahwa dirinya tidak merasa “sepenuhnya nyaman” berada di stadion rival lama Chelsea tersebut.
Alasan Cesar Azpilicueta Pensiun dan Rencana Rehatnya
Azpilicueta menegaskan bahwa keputusan berhenti bermain bukan karena kemampuannya sudah habis. Menurut pengakuannya, ia mungkin masih sanggup bermain, tetapi tidak lagi memiliki tenaga untuk mengikatkan diri secara penuh selama satu musim. Karena itulah ia menilai waktu yang tepat untuk berhenti telah tiba, bukan karena ada tawaran yang tidak cocok atau cedera yang memaksa.
Saat ini ia menyebut dirinya sedang memiliki komitmen lain yang lebih penting, yakni keluarga. Ia ingin bermain golf dan menikmati hidup setelah 20 tahun terus bepergian, bertanding, serta bersiap menghadapi musim baru. Musim panas kali ini, katanya, terasa sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang selalu dipenuhi rutinitas persiapan.
Meski sudah pensiun, ia belum bisa membayangkan bermain sepak bola bersama teman-teman sekadar untuk bersenang-senang. Sebab, hal itu akan langsung memicu naluri kompetitifnya yang terbentuk selama bertahun-tahun bertanding di level elite. Ia kini menyebut dirinya berada di “tahap hidup yang berbeda” dan ingin menikmatinya tanpa tekanan pertandingan.
Gelar MBA dan Diploma yang Diraih di Sela Karier
Kecintaan Azpilicueta pada pendidikan terlihat jelas dari salah satu kisah menjelang final Liga Champions 2021. Saat itu ia tidak bisa tidur siang seperti biasanya sebelum pertandingan, lalu memilih belajar. Ia mengaku tugas kuliah menuju gelar MBA di bidang manajemen bisnis dari Berlin School of Business and Innovation membantunya mengalihkan pikiran dari tekanan dan kebisingan di jalanan Porto.
Beberapa jam setelahnya, ia mengangkat trofi Liga Champions usai memimpin Chelsea mengalahkan Manchester City. Azpilicueta bercerita bahwa sejak kecil orang tuanya mendorongnya meraih nilai bagus dan menuntaskan sekolah. Ia baru menjadi pesepak bola profesional pada usia 17 tahun, di tahun terakhir masa sekolahnya, sehingga pendidikan selalu menjadi hal penting baginya.
Ia menambahkan bahwa masa pandemi Covid-19 memberi lebih banyak waktu luang, dan ia mulai mengikuti sejumlah kursus. Alasannya bukan karena ia merasa karier bermainnya akan segera berakhir, melainkan karena ia ingin belajar, memperbaiki diri, dan melakukannya dalam bahasa lain. Menurutnya, hal itu justru membantunya melewati tahun-tahun terakhir karier, menjadi pribadi yang lebih baik, sekaligus pesepak bola yang lebih matang.
Di Emirates Stadium, ia menerima diploma global football sport directorship melalui PFA Business School, melengkapi kualifikasi yang juga mencakup diploma dari Harvard Business School. Ketika ditanya apakah ia bisa menjadi sporting director suatu hari nanti, ia hanya menjawab “mungkin”. Namun ia menegaskan bahwa sepak bola telah membuatnya butuh istirahat setelah pensiun.
Dari Osasuna hingga Chelsea: Perjalanan Karier Azpilicueta
Azpilicueta memulai kariernya di klub masa kecilnya, Osasuna, sebelum pindah ke Marseille, tempat ia belajar bahasa Prancis. Namun kepindahannya ke Chelsea pada 2012 menjadi titik yang benar-benar mengubah hidupnya. Ia bahkan menyebut Chelsea-lah yang membentuk dirinya seperti sekarang.
Ia datang ke Stamford Bridge sebagai pemain dengan profil yang relatif tidak menonjol, dibeli seharga 7 juta poundsterling. Saat itu ruang ganti Chelsea dipenuhi pemimpin mapan seperti John Terry, Frank Lampard, dan Petr Cech, serta nama-nama bintang termasuk Fernando Torres, Eden Hazard, dan Ashley Cole. Kondisi tersebut membuatnya harus mencari jalannya sendiri untuk bertahan dan berkembang.
Sepanjang kariernya di London, posisi bermainnya beberapa kali berubah. Ia mengawali karier sebagai pemain sayap kanan, lalu belajar beradaptasi sebagai bek kiri, wing-back, hingga bek tengah dalam formasi tiga bek. Kunci keberhasilannya adalah konsistensi, kerja keras menjaga kebugaran, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan pergantian manajer dan peran yang berbeda-beda.
Ia menggambarkan atmosfer Chelsea sebagai tempat yang langsung menuntut ambisi. Setiap tiga hari ia harus menang, dan setiap pertandingan serta trofi punya arti besar. Budaya itu, katanya, mendorongnya tampil maksimal, terlebih ketika ia meninggalkan klub ia merasa telah memberikan segalanya untuk Chelsea.
Pendidikan yang Membentuk Kepemimpinan di Stamford Bridge
Pendidikan di luar lapangan, menurut Azpilicueta, berperan besar dalam membentuknya menjadi seorang pemimpin. Ilmu dan kepercayaan diri itu membuatnya mampu mewakili para pemain Liga Primer Inggris selama pandemi Covid-19. Ia juga terlibat dalam mengorganisasi sejumlah inisiatif dan menjaga klub tetap bergerak maju setelah pemilik saat itu, Roman Abramovich, terkena sanksi menyusul invasi Rusia ke Ukraina.
Puncak kariernya terjadi pada final Liga Champions 2021, saat ia mengangkat trofi setelah memimpin Chelsea menaklukkan Manchester City. Ia menggantikan John Terry dan kemudian Gary Cahill sebagai kapten, sehingga namanya layak disejajarkan dengan para pemimpin terbesar dalam sejarah klub. Peran itu menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak hanya dibangun dari kemampuan teknis, tetapi juga dari cara berpikir yang terus diasah.
Meski begitu, Azpilicueta mengungkapkan bahwa sejak meninggalkan klub pada 2023, ia belum pernah kembali ke Stamford Bridge. Ia termasuk puluhan pemain yang hengkang setelah Chelsea berpindah kepemilikan dari Abramovich ke konsorsium yang dipimpin pihak Amerika pada 2022. Kenyataan itu menjadi salah satu babak tersendiri dalam perjalanan panjangnya bersama klub London Barat tersebut.
Pandangannya soal Chelsea dan Masa Depan Kariernya
Kendati sudah tidak berseragam biru, Azpilicueta menegaskan bahwa Chelsea akan selalu berada di hatinya. Ia mengaku mengikuti setiap pertandingan dan berharap klub itu kembali ke tempat yang seharusnya. Menurutnya, saat ini ada banyak tim kuat di sekeliling, dan sepak bola kadang membutuhkan waktu untuk membangun koneksi, kerja sama, serta saling pengertian antarpemain.
Ia menilai tuntutan tinggi di klub besar seperti Chelsea adalah hal yang wajar. Justru hal itu seharusnya ada, karena sebagai penggemar Chelsea ia selalu ingin melihat klubnya meraih trofi. Ia juga menyatakan kepercayaan penuh kepada manajer Xabi Alonso beserta staf dan para pemain untuk melakukan pekerjaan yang baik sekaligus membawa kebahagiaan bagi para penggemar.
Azpilicueta turut mencermati kapten Chelsea terkini, Reece James, yang diyakininya akan tumbuh menjadi pemimpin yang lebih baik lagi. Ia juga menyoroti kehadiran sejumlah pemain berusia di atas 30 tahun seperti Jordan Henderson, Danny Welbeck, dan Emiliano Martinez yang datang pada bursa musim panas. Menurutnya, keberadaan pemain senior semacam itu penting untuk memberi pengalaman di dalam skuad.
Ketika disarankan bahwa suatu hari ia bisa kembali ke Stamford Bridge dalam suatu peran dan mendapat sambutan hangat dari para pendukung, reaksinya tetap rendah hati. Ia mengaku tidak tahu soal itu, namun memastikan akan kembali suatu hari nanti. Satu hal yang pasti, seperti ujarnya, ia tidak akan kembali dengan sepatu bola terpasang.
Kisah Azpilicueta menunjukkan bahwa karier panjang di level tertinggi tidak dibangun hanya dari bakat. Kombinasi disiplin, keinginan untuk terus belajar, dan kemampuan beradaptasi membuatnya bertahan 11 tahun di Chelsea, bahkan di saat klub berganti manajer dan menghadapi berbagai gejolak. Pendidikan yang ia kejar di sela jadwal padat justru menjadi penopang kepemimpinan di dalam maupun luar lapangan.
Keputusannya untuk beristirahat pun bukan akhir dari segalanya. Dengan kualifikasi yang terus bertambah, mulai dari MBA hingga diploma dari Harvard Business School, ia membuka peluang peran baru di dunia sepak bola maupun di luar itu. Untuk sekarang, ia memilih menikmati waktu bersama keluarga dan menjauh sejenak dari ritme pertandingan yang sudah ia jalani selama 20 tahun.
