Major League Soccer (MLS) tengah menyelidiki dugaan chant antisemitik yang menyasar penyerang New England Revolution asal Israel, Dor Turgeman, dalam laga tandang melawan CF Montréal akhir pekan lalu. Mikrofon siaran menangkap suara suporter tuan rumah meneriakkan “free Palestine” tak lama sebelum Turgeman mencetak gol. Kepastian penyelidikan ini disampaikan langsung oleh MLS pada Senin setelah laporan resmi masuk dari klub.
Insiden ini menjadi ujian baru bagi MLS dalam menjaga stadion tetap bebas dari simbol dan teriakan bernuansa politik. Sejak konflik Hamas-Israel pecah pada Oktober 2023, liga memang sudah menerapkan larangan bendera Israel dan Palestina di seluruh venue, kecuali ada pemain dari negara tersebut yang berlaga. Kini, tensi yang sama kembali menyeruak lewat chant yang diarahkan ke pemain berusia 22 tahun itu.
Kecaman New England atas Chant Antisemitik
New England Revolution menyampaikan kecaman keras pada Senin sore setelah pertandingan di Quebec itu berakhir. Klub menilai teriakan yang keluar dari tribun CF Montréal bersifat antisemitik dan diskriminatif. “Kami mengutuk keras pelecehan antisemitik dan diskriminatif yang ditujukan kepada penyerang Dor Turgeman oleh suporter CF Montreal selama pertandingan tandang hari Sabtu,” demikian pernyataan resmi klub.
Klub langsung melaporkan kejadian ini kepada MLS dan mendukung penuh jalannya investigasi. New England juga mengapresiasi respons cepat liga yang berkomitmen menyelesaikan kasus-kasus diskriminasi. Mereka berharap pihak yang terbukti bersalah segera diberi sanksi yang setimpal atas tindakan yang dinilai tidak dapat diterima itu.
- MLS memastikan penyelidikan berjalan atas dugaan chant antisemitik yang menyasar Turgeman.
- New England Revolution mengutuk keras pelecehan tersebut dan melaporkannya ke liga.
- CF Montréal berjanji meninjau ulang insiden di Stade Saputo pada akhir pekan itu.
Kronologi: Gol dan Selebrasi Dor Turgeman
Perhatian terhadap insiden ini ikut membesar karena reaksi Turgeman di lapangan terbilang tenang. Pada menit ke-36, ia mencetak gol dari jarak dekat untuk membawa New England unggul 2-0. Daripada terpancing provokasi, pemain yang direkrut Revolution tahun lalu itu justru berdiri di depan tribun suporter tuan rumah dengan kedua tangan terentang.
Turgeman kemudian mengangkat tangan ke telinga sambil berjalan dari satu sisi ke sisi lain tribun pendukung Montréal. Selebrasi itu terjadi di sela-sela teriakan dan gestur dari penonton yang tidak senang dengan aksinya. Pertandingan di Stade Saputo itu akhirnya berakhir dengan skor imbang 2-2.
Respons CF Montréal soal Insiden di Stade Saputo
CF Montréal buka suara pada Minggu, sehari setelah laga yang memanas tersebut. Klub menyatakan akan menyelidiki tuntas suasana di Stade Saputo dan tidak menoleransi diskriminasi ataupun perilaku kebencian. “Kami menanggapi tuduhan ini dengan sangat serius dan sedang meninjau seluruh kejadian,” begitu bunyi pernyataan klub.
Montréal juga mengaku telah menjalin komunikasi dengan MLS dan New England Revolution demi mengumpulkan fakta yang akurat. Setelah semua informasi terkumpul, klub akan mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu sesuai ketentuan yang berlaku. Sikap ini setidaknya menunjukkan bahwa tuan rumah tidak mau sekadar membiarkan kasus ini berlalu tanpa kejelasan.
Konteks Lebih Luas: Simbol Politik di Sepak Bola Amerika
Insiden ini datang di tengah aturan ketat MLS soal simbol-simbol politik di dalam stadion. Sejak serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023, liga melarang bendera Israel dan Palestina dikibarkan di venue pertandingan. Pengecualian baru bisa diberikan jika terdapat pemain Israel atau Palestina dalam skuad sebuah tim.
Larangan yang Punya Celah Pengecualian
Columbus Crew menjadi contoh bagaimana pengecualian itu diterapkan. Suporter klub tersebut diizinkan menampilkan bendera Palestina setelah skuadnya merekrut pemain timnas Palestina, Wessam Abou Ali, pada Agustus 2025. Meski begitu, larangan tingkat liga tetap berlaku sampai sekarang.
Kasus Ruben Gnanalingam di LAFC
Bukan kali ini saja MLS bersinggungan dengan isu politik kawasan. Pada Februari 2025, liga mengecam investor LAFC asal Malaysia, Ruben Gnanalingam, atas unggahan LinkedIn yang dinilai anti-Israel. Gnanalingam akhirnya meminta maaf, namun sahamnya di klub tetap dipertahankan hingga kini.
Dampak dan Implikasi bagi MLS
Kasus yang melibatkan CF Montréal ini menempatkan MLS pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, liga harus menunjukkan ketegasan dalam melindungi pemainnya dari perlakuan diskriminatif. Di sisi lain, penyelidikan yang berlarut-larut bisa memicu kekecewaan publik yang menuntut keadilan.
Jika terbukti ada pelanggaran, klub tuan rumah berpotensi menerima sanksi, dan hal ini bisa menjadi preseden penting bagi penegakan aturan diskriminasi di MLS. Terlepas dari hasil investigasi, insiden ini sudah menghidupkan kembali diskusi tentang bagaimana sepak bola menyikapi ketegangan politik global. Pemain seperti Dor Turgeman jelas butuh jaminan keamanan dan rasa aman saat berlaga di kandang lawan.
Singkatnya, kasus chant antisemitik ke Dor Turgeman di Montreal membuka babak baru dalam upaya MLS memberantas diskriminasi di dalam stadion. Klub-klub yang terlibat sudah bereaksi cepat, dan bola kini ada di tangan penyelidikan liga. Publik menanti kepastian hukum agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang.
Sikap tenang Turgeman di tengah tekanan layak menjadi catatan tersendiri dalam laga yang berakhir imbang itu. Ia menunjukkan bahwa pemain bisa tetap fokus bertanding meski berada di lingkungan yang tidak bersahabat. Kini yang tersisa hanya menunggu langkah konkret dari MLS untuk menuntaskan kasus ini secara adil dan transparan.
