Momen Pahit di Guadalajara
Kekalahan 1-0 dari Spanyol di Guadalajara tidak hanya mengakhiri harapan Uruguay di Piala Dunia 2026, tetapi juga menjadi simbol nyata dari kesulitan yang dialami Marcelo Bielsa selama menjabat sebagai pelatih kepala. Untuk kedua kalinya secara beruntun, tim berjuluk La Celeste itu harus angkat koper lebih awal setelah gagal melewati fase grup.
Pelatih berusia 70 tahun itu, seperti yang dilakukannya setelah hasil imbang melawan Arab Saudi dan Cape Verde, langsung mengambil tanggung jawab penuh. “Saya bertanggung jawab atas kekecewaan ini,” ujar Bielsa. Pernyataan ini menggemakan pengakuannya di awal turnamen bahwa dirinya adalah pribadi yang “beracun” (toxic).
Pernyataan Jujur Bielsa: “Saya Tidak Meninggalkan Apa Pun”
Salah satu momen yang paling dikenang dari tiga tahun kepemimpinan Bielsa mungkin adalah keputusannya menarik kiper legendaris Fernando Muslera di babak pertama setelah kesalahan yang berujung gol pertama Spanyol. Muslera, yang kembali dari pensiun internasional pada Maret lalu atas permintaan Bielsa, justru menjadi kiper pertama dalam sejarah yang melakukan tiga kesalahan berujung gol dalam satu edisi Piala Dunia.
Bielsa menjelaskan, “Muslera memutuskan untuk keluar di babak pertama.” Ia juga menarik kapten Federico Valverde di babak kedua demi menambah daya gedor fisik di lini depan. “Keputusan yang saya ambil bukan untuk merusak kepercayaan diri Muslera, tetapi justru untuk menjaganya,” tambah Bielsa. Penampilan ke-137 itu kemungkinan menjadi yang terakhir bagi Muslera, pahlawan Uruguay saat mencapai semifinal 2010.
Dalam refleksi yang pedas, Bielsa mengatakan, “Jika Anda bertanya bagaimana masa saya dengan tim nasional akan dikenang, itu adalah masa yang tidak meninggalkan apa pun. Saya tidak meninggalkan apa pun untuk sepak bola Uruguay, karena kontribusi apa pun yang mungkin saya berikan kepada negara tempat saya bekerja selama tiga tahun tidak akan membuahkan hasil jika hasil tidak tercapai.”
Awal yang Menjanjian, Lalu Runtuh
Sebelum kegagalan di Piala Dunia 2026, segalanya dimulai dengan begitu baik. Setelah Piala Dunia 2022, Bielsa mengambil alih tim yang membutuhkan regenerasi. Uruguay memulai kualifikasi Piala Dunia zona Amerika Selatan dengan impresif—menang tandang melawan Argentina, mengalahkan Brasil, dan setelah enam pertandingan mencetak hampir dua kali lipat gol dari tim lainnya.
Kemudian tibalah Copa America 2024. Uruguay mengawalinya dengan rentetan gol, lalu tiba-tiba mentok. Sejak saat itu, performa terus menurun. Pada November 2025, mereka dihancurkan 5-1 oleh Amerika Serikat yang dilatih Mauricio Pochettino, mantan anak didik Bielsa. Saat imbang 1-1 melawan Inggris di Wembley pada Maret 2026, Uruguay nyaris tidak melewati garis tengah—suatu hal yang tak terbayangkan untuk tim racikan Bielsa.
Penyebab di Balik Layar: Relasi Pemain yang Retak
Sebagian jawaban mungkin di luar kendali pelatih. Banyak pemain Uruguay yang gagal berkembang di level klub. Federico Valverde memang bintang di Real Madrid, tapi di turnamen ini ia tidak tampil impresif. Pemain lain seperti Rodrigo Bentancur, Manuel Ugarte, Facundo Pellistri, dan Darwin Nunez justru stagnan atau bahkan menurun.
Namun, dugaan yang lebih kuat terletak pada hubungan personal. Kebersamaan selama sebulan di Copa America 2024 tampaknya meregangkan ruang ganti. Luis Suarez secara terbuka mengkritik Bielsa saat pensiun dari timnas, menilai pelatih kurang hangat, perlakuannya terhadap pemain, dan atmosfer tegang di kamp. Tidak ada satu pun pemain yang membantah pernyataan pencetak gol terbanyak Uruguay sepanjang masa itu.
Insiden terbaru melibatkan winger Agustin Canobbio, yang mendapat kartu merah di akhir pertandingan melawan Spanyol. Sebelumnya ia terlibat pertengkaran sengit dengan Bielsa, yang memuncak saat pelatih mengkritik cara duduknya. Setelah kekalahan telak dari AS, Bielsa sendiri mengakui kesulitannya dalam menjalin hubungan dengan orang lain, menyebut dirinya “perfeksionis beracun”.
Apakah Gaya Bielsa Sudah Ditinggalkan Zaman?
Ada kemungkinan bahwa gaya Bielsa yang dulu revolusioner—tekanan tinggi dan intensitas tanpa henti—kini sudah menjadi arus utama dan mudah ditebak. Ia sendiri sempat ragu dengan sistem barunya yang langsung gagal di laga pertama. Uruguay tidak memainkan pertandingan uji coba sebelum Piala Dunia, memilih latihan intensif yang menghasilkan sistem baru—Valverde di kanan dan dua penyerang. Sistem itu ditinggalkan di babak pertama.
Bielsa juga tampak tidak sejalan dengan sepak bola modern. Ia mengkritik jeda minum (hydration breaks) sebagai “mengganggu konsepsi kultural dalam menafsirkan sepak bola”. Ia juga menolak mengikuti pemotretan resmi Piala Dunia dengan alasan “Saya bukan model”. Hal-hal seperti ini, disertai sikapnya yang eksentrik dan dingin, mungkin kurang efektif menghadapi pemain masa kini yang menginginkan koneksi personal lebih kuat dengan pelatih.
Satu Babak yang Akan Segera Berakhir
Bielsa memang direncanakan mundur setelah turnamen ini, tetapi prospek itu gagal membangkitkan energi baru di ruang ganti. Pada usia 70 tahun, karier manajerial yang penuh warna mungkin hampir berakhir. Pekerjaannya bersama Uruguay bukanlah iklan yang meyakinkan, dan krisis performa sudah jelas terlihat.
Uruguay, negara dengan 3,4 juta penduduk yang pengaruhnya dalam sepak bola global begitu besar, pasti akan bangkit kembali. Namun, untuk Marcelo Bielsa—salah satu karier manajerial paling menarik di sepak bola—kegagalan di Piala Dunia 2026 mungkin menjadi titik akhir yang pahit.
