Konflik FIFA tengah memanas setelah keenam konfederasi sepak bola benua akhirnya menyatakan sikap mereka dalam perpecahan yang mengguncang dunia sepak bola. Pernyataan terakhir datang dari Konfederasi Sepak Bola Oseania (OFC) yang baru angkat bicara setelah rapat komite eksekutif pekan ini, dengan memuji “kemajuan yang dicapai selama satu dekade terakhir” oleh FIFA. Hasilnya, dukungan untuk Gianni Infantino sebagai presiden FIFA kini terbelah sama rata, tiga konfederasi mendukung dan tiga lainnya menolak.
Yang lebih menarik, sikap konfederasi tidak otomatis diikuti oleh asosiasi anggota di dalamnya. Federasi Sepak Bola Selandia Baru (NZF) dengan cepat menunjukkan perbedaan tersebut dengan menarik dukungan mereka untuk Infantino dan menyerukan tinjauan independen atas rencana penjualan hak siar Piala Dunia. Padahal NZF merupakan federasi terbesar di OFC dan sebelumnya diuntungkan oleh kebijakan Infantino sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia Wanita 2023 dengan Australia.
Situasi Konflik FIFA: Tiga Lawan Tiga
Keputusan OFC untuk bersuara menandai babak baru dalam konflik FIFA yang telah berlangsung selama berminggu-minggu. Sebelumnya, lima konfederasi lain telah lebih dulu memosisikan diri terkait rencana kontroversial penjualan hak siar Piala Dunia yang memicu perpecahan. Kini dengan sikap OFC, peta dukungan menunjukkan hasil imbang tiga lawan tiga pada isu kunci apakah Infantino layak bertahan sebagai presiden FIFA.
Sikap NZF yang berseberangan dengan OFC menjadi sinyal bahwa dukungan terhadap Infantino semakin rapuh, bahkan dari kalangan yang pernah diuntungkan. NZF adalah federasi terbesar di OFC dan sebelumnya menikmati dukungan Infantino sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia Wanita 2023 dengan Australia. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana bahkan sekutu lama mulai berpaling dari presiden yang sedang terpojok, sebuah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sepak bola global.
Siapa Saja yang Mendukung Infantino?
Meskipun OFC hanya memberikan pujian untuk FIFA tanpa secara eksplisit mendukung pencalonan kembali Infantino, dua konfederasi lain jauh lebih tegas. Konfederasi Sepak Bola Afrika (Caf) dan Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol) dengan berani menyatakan ingin Infantino menjabat untuk periode ketiga penuh. Kedua konfederasi ini menjadi pilar utama dukungan bagi presiden FIFA yang berusia 56 tahun itu.
- Konfederasi Sepak Bola Afrika (Caf) mendukung penuh Infantino untuk periode ketiga.
- Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan (Conmebol) juga menyatakan sikap serupa secara terbuka.
- Sejumlah anggota individual seperti Meksiko, Qatar, dan Uni Emirat Arab juga memberi dukungan publik.
Selain dukungan dari level konfederasi, sejumlah asosiasi anggota FIFA juga secara terbuka menyatakan sokongan mereka. Di antaranya ada Meksiko dari wilayah Concacaf, serta Qatar dan Uni Emirat Arab dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Menariknya, ada juga federasi yang belum menentukan sikap, seperti Arab Saudi yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034.
Federasi Sepak Bola Arab Saudi saat ini tidak memiliki presiden karena pemilihan baru akan digelar bulan ini. Sikap Arab Saudi disebut-sebut bisa menjadi kunci dalam menentukan berapa banyak negara Asia yang akan mengikuti jejak kepemimpinan AFC. Jika Arab Saudi dan sejumlah negara Asia lain memilih mendukung Infantino, keseimbangan suara bisa berubah drastis.
Siapa yang Menolak Infantino?
Di kubu penolak, UEFA menjadi lawan paling vokal dan keras dalam konflik FIFA ini. UEFA bahkan mengancam akan memboikot turnamen FIFA jika Infantino tidak menarik pencalonannya, dengan mayoritas besar dari 55 anggota mereka bersatu di belakang sikap tersebut.
- UEFA menjadi penentang paling vokal dan mengancam boikot turnamen FIFA.
- Concacaf dengan 41 anggota dinilai lebih solid dalam sikap penolakan.
- Grenada justru bergabung dengan Meksiko untuk mendukung Infantino pekan ini.
Sementara itu, gambaran di Asia tidak sejelas Eropa karena belum diketahui berapa dari 47 anggota AFC yang mendukung kepemimpinan konfederasi mereka. Di wilayah Concacaf yang memiliki 41 anggota, sikap penolakan tampak lebih solid, meskipun Asosiasi Sepak Bola Grenada pada Jumat lalu justru bergabung dengan Meksiko dalam menyatakan dukungan untuk Infantino.
Kasus Meksiko memang istimewa karena mereka telah menyatakan keinginan untuk keluar dari Concacaf dan bergabung dengan Conmebol demi mendapatkan laga yang lebih menguntungkan melawan Brasil dan Argentina. Namun, para petinggi UEFA juga yakin bahwa negara-negara Afrika secara individual bisa dibujuk untuk bergabung dengan kubu pemberontak. Strategi mendekati anggota satu per satu ini dinilai bisa mengubah peta kekuatan sebelum pemilihan tiba.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Setelah tiga pekan aktivitas yang sangat intens, perang dingin di dunia sepak bola ini kini memasuki fase kebuntuan yang tidak mungkin diselesaikan secara definitif hingga pemilihan presiden tahun depan. Pemilihan tersebut akan digelar dalam kongres FIFA di Rabat, Maroko, pada bulan Maret. Dengan dukungan kuat dari Afrika dan Amerika Selatan, plus dukungan publik dari Presiden AS Donald Trump, tidak ada prospek Infantino akan mundur atau menarik pencalonannya.
Titik paling rawan dalam waktu dekat adalah Piala Dunia Wanita U-20 di Polandia bulan depan. Negara-negara Eropa telah mengancam akan memboikot turnamen tersebut, meskipun belum jelas apakah ada tim yang benar-benar akan mundur. Meski berada dalam situasi perang, besar kemungkinan UEFA dan FIFA akan mencapai gencatan senjata publik dalam beberapa pekan ke depan agar kompetisi bisa tetap berjalan.
Setelah itu, tenggat berikutnya jatuh pada 18 November, saat para kandidat presiden FIFA harus menyatakan diri. Ini memberi aliansi pimpinan UEFA waktu sekitar tiga bulan untuk menemukan calon alternatif pengganti Infantino dan menyatukan dukungan di belakangnya. Presiden Concacaf, Victor Montagliani, dipandang sebagai calon penantang yang paling mungkin, tetapi ia hanya akan maju jika yakin bisa menang.
Dengan total 211 anggota FIFA yang menjadi pemilih, kubu pemberontak masih belum yakin mereka cukup dekat untuk mengumpulkan 106 suara yang dibutuhkan untuk menjatuhkan Infantino. Artinya, tujuh bulan ke depan akan menjadi medan pertempuran politik yang sengit dan melelahkan bagi semua pihak. Setiap suara dari federasi anggota akan sangat berharga dalam pertarungan ini.
Dampak dan Prospek ke Depan
Perpecahan ini menunjukkan bahwa tata kelola sepak bola global sedang menghadapi ujian terbesarnya dalam beberapa dekade terakhir. Sikap saling klaim antara UEFA dan FIFA berpotensi mengganggu agenda kompetisi internasional, mulai dari Piala Dunia Wanita U-20 hingga turnamen-turnamen FIFA lainnya. Jika tidak segera ditemukan titik temu, bukan tidak mungkin kompetisi-kompetisi FIFA akan kehilangan partisipasi dari negara-negara besar Eropa.
Di sisi lain, dukungan politik dari tokoh sekelas Donald Trump memberikan daya tahan tersendiri bagi Infantino. Kombinasi antara basis dukungan di Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Asia membuat posisinya sulit digoyahkan dalam jangka pendek. Namun, dinamika yang berubah cepat seperti keputusan Arab Saudi dan gerakan negara-negara kecil bisa mengubah peta kekuatan kapan saja.
Yang jelas, konflik FIFA ini tidak akan selesai dalam waktu dekat dan akan terus menjadi sorotan hingga pemilihan presiden di Rabat tahun depan. Setiap keputusan, sekecil apa pun, dari setiap federasi anggota akan sangat menentukan arah sepak bola dunia ke depan. Publik sepak bola global hanya bisa menunggu apakah kebuntuan ini akan berakhir dengan perdamaian atau justru perpecahan permanen.
Perpecahan dalam konflik FIFA ini pada akhirnya bermuara pada satu pertanyaan besar: apakah Infantino layak melanjutkan kepemimpinannya atau harus digantikan. Dengan peta dukungan yang terbelah tiga lawan tiga, hasil pemilihan presiden FIFA di Rabat pada Maret mendatang akan menjadi momen penentu. Seluruh mata kini tertuju pada langkah Arab Saudi, sikap negara-negara Eropa, dan keputusan Montagliani untuk maju sebagai penantang.
