My Slot

Krisis Manchester United: Carrick dan Headphone Penutup Suara

Krisis Manchester United terus berlanjut. Hasil imbang 1-1 di markas Leeds United, Elland Road, memperpanjang rapor tanpa kemenangan skuad asuhan Michael Carrick menjadi enam pertandingan beruntun — rentetan terburuk sejak musim 2018-19. Di tengah kerasnya sorotan, satu-satunya alasan bagi para pendukung untuk sedikit tersenyum adalah penampilan Bryan Mbeumo, yang kembali mencetak gol dan kini mengoleksi empat gol dalam tujuh laga Premier League.

Tekanan sebenarnya tidak hanya datang dari catatan hasil. Sepekan terakhir, ruang ganti United ikut memanas setelah Lisandro Martinez melontarkan kritik terbuka terhadap jajaran manajemen klub, termasuk kepada sporting director Jason Wilcox. Carrick mengaku memilih menutup telinga dari riuh di luar lapangan, tetapi ia sendiri sadar bahwa pada titik tertentu timnya wajib meraih kemenangan. Situasi inilah yang membuat laga di Leeds terasa jauh lebih besar dari sekadar perebutan satu poin.

Mbeumo, Satu-satunya Sumber Gol yang Konsisten

Dalam pertandingan di Elland Road, Mbeumo menjadi penyumbang gol United. Catatannya kini empat gol dari tujuh penampilan di liga, sebuah angka yang menonjol di antara rekan-rekannya. Sebab, selain Bruno Fernandes — yang pernah mencetak hat-trick melawan Ipswich pada Agustus — tidak ada pemain lain di skuad Carrick yang mampu mencetak lebih dari satu gol sepanjang musim ini.

Kontribusi pemain asal Kamerun itu memang tidak datang dari performa yang sempurna. Sebelum mencetak gol, ia semestinya bisa berbuat lebih baik ketika sundulan bebasnya masih melebar dari sasaran. Setelah jeda, Mbeumo juga gagal menghentikan Dominic Calvert-Lewin yang menyamakan kedudukan. Namun di musim ketika hampir seluruh pemain menyerang United tampil di bawah performa, termasuk Fernandes yang dianggap jauh dari level pemecah rekor assist musim lalu, konsistensi Mbeumo menjadi penyelamat.

Nilai pemain berusia 26 tahun itu semakin penting karena striker Benjamin Sesko masih harus absen akibat cedera tulang kering. Fleksibilitasnya juga terbukti berguna: ia sempat bermain di sisi kanan ketika Amad Diallo cedera, lalu digeser ke posisi nomor sembilan saat Amad kembali, dan di Elland Road ia kembali dipindah ke sisi kiri sementara Fernandes lebih banyak bermain di tengah. Mantan striker United, Dion Dublin, menilai kesediaan itu sebagai bentuk pengorbanan yang wajar. “Ketika Anda pemain yang bisa tampil bagus di banyak posisi, manajer akan selalu bertanya: bisa main di sini? Bisa main di sana? Di tim Manchester United saat ini, Anda harus pergi ke tempat yang paling baik bagi tim,” ujarnya kepada BBC Sport.

Carrick pun tidak pelit memuji. Menurutnya, Mbeumo memberikan banyak hal bagi tim dan bersedia melakukan hampir segala hal yang dibutuhkan, baik bertahan di area tertentu maupun menyerang. “Dia selalu memberikan segalanya. Dia masuk ke posisi-posisi yang benar-benar berbahaya bagi kami, dan sangat bagus memiliki pemain seperti dia,” kata Carrick.

Headphone Carrick dan Ledakan di Ruang Ganti

Kegaduhan di sekitar United bukan hal baru, tetapi pekan ini sumbernya berasal dari dalam. Sebelum pertandingan dimulai, Martinez mengkritik Wilcox dan hierarki klub karena dinilai gagal merekrut pemain secara efektif pada bursa transfer musim panas. Wilcox sendiri menyaksikan laga dari tribun penonton, sementara Martinez tetap menjadi pilihan utama setelah menyampaikan permintaan maaf — bukan atas isi kritiknya, melainkan atas waktu dan forum yang ia gunakan.

Menanggapi riuh tersebut, Carrick memilih sikap yang terkesan santai. Kepada BBC Radio 5 Live, ia mengaku sepanjang pekan “memakai headphone” sehingga tidak mendengar kebisingan eksternal yang ditimbulkan oleh ledakan Martinez. Meski begitu, ia tetap menyadari bahwa timnya tidak bisa selamanya berlindung di balik hasil imbang. Enam laga tanpa kemenangan adalah angka yang sulit dibela, terutama karena rentetan serupa terakhir terjadi pada 2018-19, ketika performa United merosot setelah Ole Gunnar Solskjaer dikukuhkan sebagai manajer permanen.

Yang menarik, laga di Elland Road seolah mengulang pola musim lalu. Pada pertemuan yang sama, Ruben Amorim menggelar konferensi pers eksplosif yang memicu pemecatannya dalam waktu 24 jam. Kini, giliran Martinez yang menyalakan sumbu sebelum bola bergulir, meski dampaknya belum tentu sama. Bagi Carrick, pilihan untuk tetap tenang di depan publik bisa jadi strategi menghindari eskalasi, tetapi di saat yang sama ia dituntut menunjukkan solusi nyata di lapangan.

Standar yang Perlahan Diturunkan

Kritik paling tajam datang dari Jamie Carragher. Mantan bek Liverpool dan timnas Inggris itu menilai hasil imbang di Leeds justru dibaca terlalu longgar oleh banyak pihak. “Karena mereka tidak kalah di Leeds, kita menganggap United sudah tampil oke. Tetapi dalam beberapa hal itu justru negatif. Kita sedang menurunkan standar. Seharusnya kita tidak berbicara tentang Manchester United seperti itu,” ujarnya di Sky Sports.

Penurunan standar itu terlihat dari cara United dibangun musim ini. Carrick disebut tidak mendapat dukungan memadai di bursa transfer, khususnya karena tidak ada pesaing serius bagi Luke Shaw di posisi bek kiri. Buktinya, Diogo Dalot menjadi pemain kelima yang menjadi starter di posisi tersebut sepanjang musim. Belum diketahui apakah Shaw cukup bugar untuk laga Liga Champions melawan klub Serie A, Como, pada Rabu, tetapi pergantian pemain yang terus berulang jelas tidak membantu stabilitas tim.

Masalah kebugaran menambah rumit situasi. Martinez harus ditarik keluar saat jeda karena cedera paha, memaksa Carrick mengatur ulang lini belakang. Matthijs de Ligt, yang baru kembali setelah hampir 11 bulan absen akibat masalah punggung, dianggap belum siap, sehingga Carrick lebih memilih memasukkan bek sayap Noussair Mazraoui. United pun mengakhiri laga di peringkat ke-13 klasemen Premier League, dan posisi itu masih mungkin turun sebelum rangkaian pertandingan pekan ini tuntas.

Siklus Lama dan Ujian Berikutnya

Berbeda dari Amorim, Carrick memilih membingkai situasi sulit ini sebagai titik balik. Ia menyebut laga di Elland Road terasa seperti awal yang baru, dengan penerimaan atas kondisi yang ada dan keinginan untuk memperbaikinya. Namun ia menegaskan tidak sedang menganggap semuanya baik-baik saja. “Saya tidak menerimanya seolah semuanya hebat, sama sekali tidak. Saya realistis. Tetapi kadang-kadang Anda memang harus melewati masa sulit, ada fase ketika Anda harus mencari jalan keluar,” katanya.

Ia juga menyinggung soal siklus yang berulang di klub, ketika arah tim bisa berubah ke berbagai penjuru. Bagi Carrick, kunci utamanya adalah stabilitas untuk terus melakukan hal-hal yang benar. Ia menilai skuadnya lebih dari mampu memenangkan pertandingan dan tidak memiliki keraguan bahwa United bisa meraih rentetan hasil baik. Pernyataan itu akan segera diuji, mengingat jadwal berikutnya sudah menanti, termasuk lawatan ke Como di kompetisi Eropa.

Sejarah singkat klub menunjukkan bahwa periode tanpa kemenangan seperti ini jarang berhenti dengan sendirinya. Di musim 2018-19, penurunan performa berujung pada pergantian pelatih. Kini, tekanan datang dari dua arah sekaligus: hasil di lapangan yang belum membaik, dan ketegangan internal yang terbuka ke publik lewat kritik Martinez. Cara Carrick menyeimbangkan keduanya akan menentukan apakah “awal yang baru” yang ia bicarakan benar-benar terwujud atau hanya menjadi kalimat penghibur.

Kesimpulan

Enam pertandingan tanpa kemenangan, posisi ke-13, dan kritik terbuka terhadap manajemen membuat Manchester United berada di wilayah yang tidak nyaman. Di tengah semua itu, Mbeumo tampil sebagai satu-satunya pemain yang konsisten mencetak gol dan bersedia bermain di posisi mana pun demi tim. Sementara Carrick memilih menutup telinga dari kebisingan luar, ia tetap dituntut menjawab persoalan dengan kemenangan.

Laga melawan Como pada Rabu dan rangkaian pertandingan berikutnya akan menjadi ujian sesungguhnya. Jika hasil tak kunjung membaik, narasi “awal yang baru” berisiko kehilangan makna, dan tekanan yang kini mengarah ke ruang ganti bisa dengan cepat berpindah ke kursi pelatih.

Exit mobile version