Lionel Messi kembali menuliskan babak baru dalam karier gemilangnya di Piala Dunia 2026. Dalam laga yang mempertemukan Argentina melawan Mesir di Atlanta Stadium, sang megabintang tak kuasa menahan tangis setelah timnya berhasil membalikkan keadaan. Comeback Argentina Piala Dunia 2026 ini menjadi salah satu momen paling dramatis yang pernah disaksikan di turnamen sepak bola terbesar dunia.
Dari Keputusasaan Menuju Euforia
Argentina sempat tertinggal 0-2 dari Mesir dengan waktu tersisa kurang dari 20 menit. Kamera raksasa di stadion menangkap ekspresi Messi yang tampak pasrah dan hampir putus asa. Namun, semangat juang La Albiceleste tak pernah padam. Dalam 14 menit, mereka mencetak tiga gol dan memenangkan pertandingan dengan skor 3-2.
Comeback ini mengingatkan banyak pihak pada kegigihan Argentina saat merebut trofi Piala Dunia di Qatar 2022. Kini, di usia 39 tahun, Messi masih menjadi pusat perhatian. Meski kecepatannya berkurang, naluri dan kecerdasan sepak bolanya tetap tajam. Ia seperti menunggu momen yang tepat untuk menghancurkan lawan.
Messi dan Drama Penalti yang Gagal
Menariknya, pertandingan melawan Mesir tidak berjalan mulus bagi Messi. Ia gagal mengeksekusi penalti pada babak pertama setelah tendangannya digagalkan kiper Mesir, Mostafa Shobeir. Ini menjadi penalti kedelapan yang gagal ia konversi di Piala Dunia (tidak termasuk adu penalti). Bahkan, ia menjadi satu-satunya pemain yang gagal mencetak dua penalti dalam satu edisi Piala Dunia.
Namun, kegagalan tersebut justru memicu semangat tim. Messi tidak menyerah. Ia terus menciptakan peluang, hingga akhirnya memberikan assist untuk gol pertama Argentina melalui sundulan Cristiano Romero pada menit ke-79. Hanya beberapa menit kemudian, Messi melepaskan tembakan kaki kiri yang meluncur deras melewati kiper dan mengenai tiang gawang. Gol tersebut menyamakan kedudukan menjadi 2-2.
Gol Kemenangan di Momen Krusial
Gelombang serangan Argentina tak terhentikan. Pada masa injury time, Enzo Fernandez sukses menyundul bola dari umpan silang dan memastikan kemenangan. Mesir pun harus tersingkir dengan hati hancur. Sementara Messi, yang sebelumnya terlihat terpuruk, kini diangkat tinggi-tinggi oleh rekan setimnya di hadapan para suporter Argentina yang terus bernyanyi dengan gemuruh drum.
Implikasi Comeback Argentina Piala Dunia 2026 bagi Inggris
Kemenangan Argentina ini juga berdampak langsung pada peta persaingan turnamen. Sebelum gol-gol Argentina tercipta, Inggris mungkin membayangkan peluang emas mencapai final untuk pertama kalinya sejak 1966. Jalur mereka menuju partai puncak sempat terbuka lebar: jika Argentina tersingkir, lawan-lawan seperti Swiss, Kolombia, atau Norwegia terlihat lebih mudah ditaklukkan.
Namun, dengan comeback Argentina, bayangan Messi kembali menghantui. Jika Inggris berhasil melewati Norwegia di perempat final, mereka harus berhadapan dengan Messi dan skuad tangguh Argentina di semifinal. Messi, meski berusia 39 tahun, masih membayangi setiap lawan dengan kehebatannya. Statistik menunjukkan ia kini telah mencetak gol di enam pertandingan knockout Piala Dunia berturut-turut dan total delapan gol di turnamen ini.
Statistik dan Rekor Messi yang Mengagumkan
Messi menjadi pemain pertama dalam sejarah Piala Dunia yang mencetak gol di enam pertandingan fase gugur beruntun. Dengan delapan gol di edisi 2026, ia menjadi pencetak gol terbanyak dalam lima pertandingan pembuka sejak Gerd Muller (10 gol) pada 1970. Selain itu, ia berkontribusi pada 16 gol dalam sembilan pertandingan Piala Dunia terakhirnya: 13 gol dan 3 assist.
Tak heran jika rekan setimnya rela bekerja keras demi Messi. Mereka sadar bahwa sang maestro selalu bisa menciptakan keajaiban. Comeback Argentina Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa meski usia bertambah, kejeniusan Messi tetap abadi.
Peluang Comeback Terbesar di Piala Dunia
Menurut data probabilitas kemenangan Opta, peluang Argentina untuk memenangkan pertandingan saat gol pertama Romero tercipta hanya 0,6%. Ini menjadikan laga Argentina vs Mesir sebagai pertandingan dengan comeback paling dramatis di Piala Dunia, di mana negara tertinggal dua gol pada waktu paling akhir namun menang tanpa perlu perpanjangan waktu.
Banyak yang menyebut laga ini sebagai yang terbaik sepanjang turnamen, bersaing dengan kemenangan dramatis Inggris 3-2 atas Meksiko di Azteca. Namun, intensitas emosi yang ditunjukkan Messi dan Argentina sulit ditandingi. Air mata Messi membuktikan bahwa bahkan legenda hidup sekalipun tak kebal terhadap getaran emosi sepak bola.
Kesimpulan: Comeback Argentina Piala Dunia 2026 bukan sekadar kemenangan biasa. Ini adalah simbol semangat pantang menyerah, kejeniusan Messi, dan kekuatan kolektif La Albiceleste. Dengan lolos ke perempat final, Argentina masih menjadi ancaman serius bagi siapa pun yang ingin merebut trofi. Messi telah menunjukkan bahwa magisnya belum padam, dan dunia sepak bola masih bisa berharap pada aksi-aksi berikutnya.
