My Slot

Pochettino: Gelar Premier League 2016-17 Chelsea Harus Dicabut

Mauricio Pochettino menilai gelar Premier League 2016-17 milik Chelsea seharusnya dicabut karena pelanggaran aturan keuangan, lalu penghargaan itu diberikan secara retroaktif kepada Tottenham Hotspur. Pochettino adalah manajer yang membawa Spurs finis di posisi kedua pada musim tersebut, terpaut tujuh poin dari Chelsea asuhan Antonio Conte.

Gagasan itu ia lontarkan di tengah rangkaian sanksi yang sudah dijatuhkan kepada Chelsea atas sejumlah pelanggaran aturan selama era kepemilikan Roman Abramovich. Klub London barat itu dua kali dikenai denda oleh dua otoritas berbeda, tetapi lolos dari hukuman pengurangan poin. Bagi Pochettino, respons itu belum sepadan dengan pelanggaran yang terjadi.

Tuntutan Pochettino soal Gelar Premier League 2016-17 Chelsea

Dalam wawancara yang ia jalani baru-baru ini, Pochettino berbicara terbuka soal apa yang ia anggap sebagai ketidakadilan kompetitif. Menurut dia, Tottenham seharusnya dinobatkan sebagai juara jika terbukti bahwa Chelsea memang melanggar aturan pada periode tersebut. Ia menegaskan tidak takut menyampaikan hal itu meski sadar akan menuai reaksi dari pendukung Chelsea.

“Kami seharusnya menang satu Premier League, kami seharusnya dianugerahi gelar itu,” kata Pochettino. “Kalau pelanggaran aturan itu benar, maka kami layak jadi juara tahun itu. Mereka dihukum, mereka mengakuinya? Ya sudah. Gelar itu seharusnya diberikan kepada tim yang finis kedua.”

Ia juga mengakui bahwa Chelsea bermain baik dan Conte tampil hebat pada musim itu, dan menegaskan bahwa pesannya jangan dipelintir. Namun ia menilai tidak masuk akal bila satu klub bertanding dengan seperangkat aturan yang berbeda dari klub lain. Analogi yang ia pakai sederhana: tidak mungkin satu tim bermain dengan aturan offside sementara tim lain tidak, atau satu tim memakai VAR sementara yang lain tidak.

“Kalau kamu melanggar aturan, ya sudah, ciao — kamu harus memberikan gelar itu ke tim lain,” ujarnya. Ia mengaku tidak tahu mengapa hal itu tidak terjadi, dan menilai yang justru terjadi sekarang adalah sebaliknya: aturan seolah memberi insentif untuk melanggar.

Sanksi dan Pelanggaran yang Menjerat Chelsea

Pada Juli, Chelsea didenda £10 juta oleh Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dan menerima larangan transfer dua jendela yang statusnya ditangguhkan. Sanksi itu dijatuhkan karena sejumlah pelanggaran aturan selama era Abramovich. Sebelumnya, pada Maret, klub yang sama juga didenda £10,75 juta oleh Premier League.

Temuan investigasi menyebut Chelsea menggunakan agen tak berlisensi dan berupaya menyamarkan hakikat bisnis transfer mereka pada rentang 2009 hingga 2022. Sejumlah transaksi yang mendatangkan pemain ke Stamford Bridge masuk dalam daftar pelanggaran tersebut. Banyak dari transaksi rahasia itu dijalankan melalui jaringan perusahaan lepas pantai milik Abramovich, dan terungkap dalam investigasi yang dipublikasikan Guardian bersama sejumlah mitra internasional pada 2023.

Yang penting dicatat, hukuman itu tidak menyertakan pengurangan poin. Kepemilikan baru Chelsea di bawah BlueCo melaporkan sendiri pelanggaran tersebut ketika mengambil alih klub dari Abramovich pada 2022, dengan harapan bisa meringankan hukuman. Langkah itu tampaknya berbuah, karena klub tetap bisa berlaga di kompetisi tanpa kehilangan poin.

Kaitan Rekrutmen Bermasalah dengan Kesuksesan 2016-17

Sejumlah transfer yang dianggap bermasalah berkaitan langsung dengan pemain yang menjadi tulang punggung Chelsea pada musim juara 2016-17. Di antara kesepakatan yang ditemukan melanggar adalah transfer Eden Hazard, Willian, David Luiz, dan Nemanja Matic ke Stamford Bridge. Keempatnya punya peran penting dalam keberhasilan Chelsea di bawah Conte musim itu.

Secara khusus, Hazard menjadi sosok pembeda di persaingan gelar 2016-17 dengan torehan 16 gol di kompetisi tersebut. Ketika hal itu disampaikan kepada Pochettino, ia menjawab singkat: “Mungkin ya.” Ia mengaku tidak ragu mengakui hal itu, termasuk risiko membuat pendukung Chelsea kecewa.

Pochettino menambahkan, sikapnya akan sama seandainya posisi klub terbalik. Jika Tottenham yang melanggar aturan, ia akan mengakui bahwa timnya tidak layak juara. Menurut dia, kesetaraan aturan adalah syarat utama agar sebuah tim bisa membangun skuad terbaiknya secara adil.

Dampak pada Persaingan dan Preseden Sanksi

Bagi para pesaing, kasus ini menyisakan pertanyaan besar soal seberapa jauh sanksi finansial cukup memberi efek jera. Chelsea dihukum dengan denda dan ancaman larangan transfer yang ditangguhkan, tetapi prestasi yang sudah diraih tetap tercatat di buku sejarah. Situasi seperti ini bisa membuat klub lain menilai bahwa pelanggaran aturan masih “terjangkau” secara biaya.

Pochettino menyentil hal itu secara langsung. Ia menilai apa yang sedang dipromosikan dan diberi insentif saat ini justru adalah tindakan melanggar aturan. Ia juga mengaitkannya dengan kariernya sendiri, dengan menyebut bahwa ia kehilangan pekerjaan di Spurs karena tidak memenangi gelar — padahal, menurut dia, kompetisi tidak dijalankan dengan aturan yang setara bagi semua peserta.

Menariknya, Pochettino kemudian menangani Chelsea pada musim 2023-24, setelah sebelumnya identik dengan Tottenham. Saat ini ia menakhodai tim nasional Amerika Serikat. Latar belakang itu membuat pernyataannya kian diperhatikan, karena ia berbicara dari dua sisi pengalaman: sebagai mantan pesaing Chelsea dan sebagai mantan pelatih klub tersebut.

Konteks Lebih Luas dan Peluang Gelar Dicabut

Periode 2009-2022 yang menjadi sorotan investigasi merupakan masa paling produktif Chelsea. Dalam rentang itu, klub meraih tiga gelar liga, dua gelar Liga Champions, dua trofi Liga Europa, empat Piala FA, dan satu Piala Liga. Artinya, pelanggaran administratif yang ditemukan terjadi bersamaan dengan era keemasan yang paling banyak dikenang pendukungnya.

Dalam praktiknya, mencabut gelar secara retroaktif adalah langkah yang jarang ditempuh otoritas sepak bola, terlebih karena sanksi yang dijatuhkan dalam kasus ini bersifat finansial dan larangan transfer. Pochettino sendiri tidak menjelaskan mekanisme yang ia inginkan. Ia hanya menegaskan bahwa ketiadaan konsekuensi terhadap gelar adalah bagian dari masalah yang lebih besar.

Perdebatan ini juga menyentuh pertanyaan yang lebih luas: apakah keadilan kompetisi hanya diukur dari hasil akhir di lapangan, atau juga dari cara sebuah klub membangun skuadnya. Selama aturan dianggap bisa dilanggar tanpa kehilangan trofi, argumen Pochettino akan terus menemukan pendukungnya — terutama dari klub-klub yang finis tepat di belakang sang juara.

Kesimpulan

Pernyataan Pochettino menempatkan sanksi terhadap Chelsea dalam sorotan yang lebih tajam: denda dan ancaman larangan transfer dinilai tidak cukup karena gelar 2016-17 tetap berada di Stamford Bridge. Ia menginginkan penghargaan itu dialihkan ke Tottenham, tim yang finis kedua pada musim tersebut dan ia nilai bertanding tanpa keuntungan yang sama.

Terlepas dari kemungkinan realisasinya yang kecil, pernyataan ini menegaskan satu hal: dalam pandangan Pochettino, aturan yang tidak diterapkan secara setara akan merusak makna sebuah kompetisi. Sampai ada pihak yang memutuskan sebaliknya, gelar 2016-17 akan tetap tercatat sebagai milik Chelsea — lengkap dengan perdebatan yang menyertainya.

Exit mobile version