Kejutan Nahas di Menit Akhir
Senegal hanya tinggal empat menit dari tiket ke babak 16 besar. Tim asuhan Pape Thiaw unggul 2-0 atas Belgia—tim semifinalis 2018—lewat gol Habib Diarra dan Ismaila Sarr. Namun, dalam sekejap, mimpi itu sirna. “Senegal benar-benar menemukan cara untuk kalah,” ujar mantan kapten Republik Irlandia, Roy Keane, di ITV.
Romelu Lukaku mencetak gol pada menit ke-86, membangkitkan harapan Belgia. Tiga menit berselang, kapten Youri Tielemans menyundul umpan Leandro Trossard untuk menyamakan kedudukan. Padahal, Trossard dan Tielemans sempat bertengkar hebat saat jeda minum. Pertandingan pun berlanjut ke perpanjangan waktu.
Penalti Kontroversial yang Menentukan
Babak tambahan berjalan sengit. Wasit menunjuk titik putih setelah meninjau tayangan ulang VAR atas tekel Lamine Camara terhadap Tielemans. Tielemans sendiri yang maju sebagai algojo dan mencetak gol pada menit ke-125—menjadi gol paling akhir dalam sejarah Piala Dunia. Gol itu memastikan Senegal tersingkir secara dramatis.
Keputusan tersebut menuai protes. “Penalti itu agak keras, dan wasit terlalu lama melihat layar. Seharusnya ada keyakinan dalam keputusan, bukannya keraguan,” kritik Roy Keane. Gary Neville dari ITV menambahkan, “Saya benar-benar tidak percaya itu penalti.” Bagi Senegal, momen ini mengingatkan pada final Piala Afrika 2025 di Rabat, ketika mereka kehilangan gelar setelah penalti kontroversial lewat VAR.
Comeback Terbesar Piala Dunia
Belgia menjadi tim pertama yang menang setelah tertinggal dua gol sejak mereka sendiri melakukannya pada 2018 melawan Jepang. Catatan ini hanya pernah dicapai Jerman (1954 vs Hungaria, 1970 vs Inggris). Gol penyeimbang Tielemans terjadi pada menit ke-90+3—waktu paling larut dalam sejarah bagi tim yang tertinggal dua gol dan akhirnya tidak kalah.
Pelatih Belgia, Rudi Garcia, memuji mentalitas pemainnya: “Segala sesuatu selalu mungkin dalam sepak bola selama Anda percaya. Kekuatan skuad ini juga terletak pada pemain pengganti.” Lukaku, yang sebelumnya minim menit bermain di level klub, menjadi pahlawan setelah masuk dari bangku cadangan.
Dapatkah Garda Tua Belgia Bersinar Lagi?
Hanya lima pemain tersisa dari skuad Belgia yang finis ketiga pada 2018: Courtois, De Bruyne, Meunier, Lukaku, dan Witsel. Meski De Bruyne ditarik keluar lebih awal karena frustrasi dengan performanya, Belgia masih menunjukkan ketangguhan. Lukaku tidak hanya menjadi pengubah permainan, tetapi juga penengah pertengkaran antara Tielemans dan Trossard saat jeda minum.
Kemenangan dramatis ini membawa Belgia ke babak 16 besar melawan tuan rumah Amerika Serikat. Meski jauh dari sempurna, kombinasi kualitas dan daya juang para pemain senior masih menjadi senjata utama Belgia di Piala Dunia 2026.
Kesimpulan: Sepak Bola yang Gila dan Menyakitkan
“Sepak bola benar-benar gila. Saya tidak bisa memprediksi pertandingan ini sama sekali,” kata mantan striker Inggris Dion Dublin. Bagi Senegal, kegagalan mempertahankan keunggulan dua gol dan kontroversi penalti kembali menjadi luka lama. Namun, seperti kata pelatih Thiaw: “Kami harus menerima ini. Itulah sepak bola.”
Kisah ini sekali lagi membuktikan bahwa di Piala Dunia, drama, sejarah, dan patah hati bisa terjadi dalam hitungan menit.
