My Slot

Statistik Lari Pemain Premier League, Penentu Kemenangan?

Statistik lari pemain Premier League sering dijadikan senjata utama untuk menilai apakah sebuah tim benar-benar berusaha di lapangan. Padahal, analisis Opta Analyst terhadap sejumlah data menunjukkan jarak tempuh sebuah tim tidak berbanding lurus dengan jumlah kemenangan maupun posisi akhirnya di klasemen. Dalam rentang satu musim penuh, hubungan antara berlari lebih banyak dan meraih sukses justru tergolong sangat lemah.

Perdebatan itu mencuat lagi setelah Manchester United kehilangan poin melawan Tottenham Hotspur. Kritik pun mengalir, bukan hanya soal taktik atau kualitas pemain, tetapi juga soal “usaha” yang diukur lewat angka jarak tempuh. Pola serupa pernah menimpa Liverpool dan Chelsea pada musim sebelumnya. Karena metrik fisik seperti total jarak tempuh dan jumlah sprint kini mudah diakses publik, angka-angka itu kerap jadi penjelasan serba bisa setiap kali klub besar tampil di bawah ekspektasi.

Kritik Jamie Redknapp dan Angka Jarak Tempuh Manchester United

Dalam tayangan Sky Sports, Jamie Redknapp menyoroti hasil United melawan Spurs lewat kacamata statistik. Ia menyebut ada pola yang tidak ia sukai ketika menonton pertandingan, yaitu saat lawan berlari lebih banyak dan data statistik membuktikan hal itu. Menurutnya, ada beberapa hal yang tidak bisa dinegosiasikan di Premier League saat ini.

“Kalau ingin menang, kamu harus berlari lebih banyak dari lawan, atau setidaknya cukup dekat sehingga selisihnya tidak terlalu berpengaruh,” ujar Redknapp. Ia lalu menambahkan angka yang menjadi sorotan: Tottenham berlari lima kilometer lebih jauh dibanding Manchester United pada laga tersebut. Selisih lima kilometer untuk satu pertandingan memang terdengar besar dan mudah dijadikan dasar menilai rendahnya intensitas satu tim.

Masalahnya, jarak tempuh adalah metrik yang sederhana di permukaan tetapi rumit ketika ditafsirkan. Sepak bola adalah olahraga tim yang saling bergantung, di mana gaya bermain satu kesebelasan langsung memengaruhi jumlah lari lawannya. Menjadikan angka teratas sebagai satu-satunya bukti kurangnya usaha berarti mengabaikan konteks pertandingan, mulai dari siapa yang lebih dulu unggul hingga siapa yang lebih banyak menguasai bola.

Hubungan Statistik Lari Pemain Premier League dengan Klasemen

Cara paling sederhana untuk menguji asumsi itu adalah membandingkan tabel klasemen Premier League dengan peringkat jarak tempuh serta high-intensity distance, yaitu jarak yang ditempuh dengan intensitas tinggi. Pendekatan ini kasar dan mendasar, tetapi cukup menjadi titik awal untuk melihat apakah ada pola yang konsisten.

Klasemen musim lalu nyaris tidak mencerminkan peringkat jarak tempuh per pertandingan. Arsenal dan Manchester City memang tinggi dalam total jarak tempuh, tetapi tim-tim yang finis di posisi ketiga sampai kedelapan justru berada di level menengah untuk metrik tersebut. Sepuluh tim teratas rata-rata menempuh 4.363 km sepanjang musim, sementara sepuluh tim terbawah rata-rata 4.332 km. Selisih 31 km dari total ribuan kilometer itu praktis sangat kecil.

Untuk high-intensity distance, jarak antarkelompok juga tipis, yakni rata-rata 338,7 km untuk tim 10 besar berbanding 328,4 km untuk 10 terbawah, atau hanya sekitar 3% lebih tinggi. Data musim ini pun tidak memperlihatkan pola yang jauh berbeda, sehingga sulit menemukan kaitan langsung antara banyaknya lari dan posisi di klasemen.

Membandingkan dengan klasemen memang mengabaikan satu hal penting: keberhasilan itu relatif. Burnley tidak akan tiba-tiba finis ketujuh hanya karena mereka berada di peringkat ketujuh dalam urusan jarak tempuh.

Prediksi Superkomputer Opta dan Tim yang Melebihi Ekspektasi

Untuk menilai keberhasilan secara lebih adil, Opta Analyst memakai prediksi pramusim superkomputer Opta sebagai patokan, sehingga bisa terlihat tim mana yang tampil di atas atau di bawah perkiraan. Sepuluh tim yang finis minimal satu posisi lebih tinggi dari perkiraan rata-rata menempuh 4.369 km sepanjang musim, sedangkan sembilan klub yang finis minimal satu posisi lebih rendah rata-rata 4.308 km. Bedanya hanya 1,4%.

Yang menarik, Sunderland (+13 posisi) dan Manchester United (+9 posisi) tidak masuk 10 besar jarak tempuh, tetapi melampaui ekspektasi superkomputer lebih jauh dari tim mana pun. Sebaliknya, Crystal Palace (-8 posisi) dan Newcastle (-6 posisi) justru termasuk 10 besar dalam jarak tempuh, namun menjadi dua tim yang paling jauh dari harapan pramusim.

Sudut pandang lain adalah expected points (xPts), model yang menyimulasikan gol setiap tim berdasarkan nilai xG dari seluruh tembakan, lalu menyimulasikan setiap pertandingan 10.000 kali untuk menentukan proporsi hasil menang, seri, atau kalah. Model ini tidak sempurna karena terbatas pada kelemahan alami xG, tetapi cukup menjadi barometer performa sepanjang musim.

Tim yang berada di paruh bawah untuk jarak tempuh musim lalu rata-rata melampaui total xPts mereka sebesar 0,38 poin. Sebaliknya, tim di paruh atas justru mengumpulkan 1,88 poin lebih sedikit dibanding xPts mereka. Singkatnya, hubungan antara kesuksesan jangka panjang dan jarak tempuh nyaris tidak terbukti.

Jarak Tempuh Saat Menguasai Bola Jadi Petunjuk Terkuat

Bukan berarti tidak ada korelasi sama sekali. Ketika sejumlah metrik fisik dianalisis sepanjang musim 2025-26, indikator yang paling erat kaitannya dengan posisi akhir klasemen adalah jarak tempuh ketika menguasai bola atau distance covered in possession.

Korelasinya memang tidak sempurna, tetapi ada petunjuk bahwa tim yang lebih banyak berlari saat memegang bola cenderung finis lebih tinggi. Ini tidak otomatis berarti mereka finis di atas karena berlari lebih banyak; lebih mungkin itu merupakan cerminan tim yang lebih lama menguasai bola karena memiliki pemain yang lebih berkualitas. Meski begitu, temuan ini tetap layak dicatat sebagai satu-satunya tanda yang cukup menonjol.

Analisis per Pertandingan: Saat Satu Tim Berlari 5 Km Lebih Sedikit

Kaitan paling kuat antara metrik fisik dan keberhasilan justru muncul di level pertandingan, bukan sepanjang musim. Sejak awal musim lalu, tercatat 86 pertandingan Premier League di mana salah satu tim menempuh jarak minimal 5 km lebih sedikit daripada lawannya.

Dari 86 laga tersebut, tim yang berlari lebih sedikit menang 10 kali, dan tujuh di antaranya memang diprediksi menang oleh superkomputer Opta. Itu berarti tingkat kemenangannya hanya 11,6%.

Ada catatan penting yang harus diperhatikan. Sebanyak 20 dari laga itu melibatkan setidaknya satu tim yang kehilangan pemain karena kartu merah, dan kondisi tersebut jelas memengaruhi output fisik kedua kesebelasan. Jika 20 laga itu dikeluarkan, tersisa 8 kemenangan dari 66 pertandingan bagi tim yang berlari minimal 5 km lebih sedikit, sehingga tingkat kemenangannya naik dari 11,6% menjadi 12,1%.

Saat parameternya diubah ke selisih 2,5 km hingga 4,99 km dan tetap mengecualikan laga ber kartu merah, tingkat kemenangan membaik menjadi 25,8%, meski angka itu tetap tidak istimewa. Tingkat kekalahannya justru mencapai 46%, yang menunjukkan bahwa berlari lebih sedikit bukan jaminan kalah, dan berlari lebih banyak bukan jaminan menang.

Semua ini mengarah pada satu kesimpulan: ada semacam hubungan pada contoh-contoh paling ekstrem, tetapi kita tidak bisa memastikan bahwa tambahan lari itu lebih menentukan dibandingkan sekian banyak faktor lain di lapangan.

Gaya Main, Waktu Berlari, dan Pandangan Klopp serta Guardiola

Metrik fisik sangat lekat dengan gaya bermain, sehingga output satu tim bisa langsung memengaruhi output lawannya. Itulah alasan banyak pihak gemar bersandar pada angka-angka ini: di permukaan semuanya terlihat mudah dipahami dan mudah dilekatkan pada “usaha”, terutama ketika yang dibahas adalah tim yang baru saja kalah.

Jürgen Klopp pernah merangkum persoalan ini di awal masa kepelatihannya di Liverpool. Menurutnya, tim tidak harus berlari 115 km per pertandingan untuk bisa sukses, dan tidak perlu berlari mati-matian saat menguasai bola karena itu baru tahap awal. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menekan di momen yang tepat dengan pemikiran dan timing yang lebih baik. Namun, ia juga menegaskan bahwa melawan tim yang jauh lebih kuat tanpa kesiapan berlari lebih banyak adalah kesalahan besar.

Pep Guardiola menambahkan pandangannya pada musim terakhirnya di Manchester City. Ia menekankan bahwa persoalannya bukan berlari, melainkan kapan harus berlari. Ia bahkan menyindir bahwa jika sekadar berlari adalah kuncinya, ia bisa meminta pelari maraton bermain untuk timnya. Menurutnya, musim lalu ada momen ketika pemain berlari tetapi hasilnya tidak berguna, sehingga kombinasi antara berlari dan mengambil keputusan tepat menjadi hal terpenting.

Niat dan timing. Ketika tim sedang terpuruk, niat sering dianggap sebagai segalanya oleh penggemar. Terlihat kurang berusaha, terlepas dari apakah itu sesuai kenyataan atau tidak, adalah dosa besar di mata pendukung. Tetapi “berlari lebih banyak saja” hampir tidak pernah menjadi jawaban yang memadai.

Itulah sebabnya membaca statistik lari pemain Premier League perlu dilakukan dengan hati-hati. Angka-angka tersebut berguna sebagai petunjuk tentang intensitas dan gaya bermain, bukan sebagai vonis tunggal atas kualitas usaha sebuah tim.

Exit mobile version