Gianni Infantino tengah menghadapi krisis kredibilitas terbesar sejak memimpin FIFA pada 2016. Rencana kontroversial untuk menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor swasta yang bocor ke media telah menggerus kepercayaan publik terhadap dirinya dalam kecepatan yang luar biasa. Sebuah editorial dari The Guardian menegaskan bahwa pria yang mengaku sangat mencintai sepak bola ini seharusnya mundur demi kepentingan olahraga itu sendiri.

Tekanan terhadap presiden FIFA ini datang dari berbagai penjuru, mulai dari tokoh-tokoh sepak bola Eropa hingga federasi-federasi nasional yang selama ini menjadi pendukungnya. Meskipun ia sudah terbiasa bertahan menghadapi kritik atas pendekatan komersial yang kerap mengorbankan nilai-nilai olahraga, skandal terbaru ini dinilai melampaui batas. Pasalnya, kesepakatan yang bocor tersebut tidak hanya membahayakan tata kelola FIFA, tetapi juga berpotensi memperkaya Infantino secara pribadi.
Skandal Penjualan Saham Piala Dunia yang Mengguncang FIFA
Rencana yang memicu krisis ini adalah penjualan saham Piala Dunia kepada pihak swasta yang memiliki keterkaitan dengan saudara laki-laki dari menantu Donald Trump. Kesepakatan tersebut bocor ke media dan langsung menuai kecaman keras dari berbagai pihak yang peduli terhadap masa depan sepak bola dunia. Padahal, FIFA saat ini sudah memiliki cadangan dana mencapai miliaran poundsterling, sehingga alasan komersial untuk menjual aset terbesar organisasi itu menjadi sangat sulit untuk dibenarkan.
Yang membuat skandal ini semakin serius adalah potensi konflik kepentingan yang menyertainya. Kesepakatan dengan investor swasta dikhawatirkan akan merusak tata kelola FIFA yang sudah rapuh dan hanya menguntungkan segelintir orang. Dalam editorialnya, The Guardian menyebut tindakan ini sebagai pengkhianatan terhadap kepentingan olahraga paling populer di dunia yang dilakukan oleh presiden organisasi itu sendiri.
Gianni Infantino Dinilai Gagal Melindungi Sepak Bola
Setelah pertemuan darurat di kantor pusat FIFA yang megah dan baru di Rabat, Maroko, Gianni Infantino akhirnya mengeluarkan pernyataan yang dianggap setengah hati. Ia hanya mengakui bahwa proyek yang kini dibatalkan itu “mungkin bisa ditangani dengan cara yang berbeda”. Namun, banyak pihak menilai bahwa kesepakatan yang nyaris menggadaikan masa depan Piala Dunia kepada para spekulan tidak akan pernah bisa dianggap sebagai keputusan yang baik dalam keadaan apa pun.
Kecaman keras datang dari tokoh-tokoh penting sepak bola dunia, termasuk manajer legendaris Arsène Wenger dan mantan bintang Portugal Luís Figo. Federasi sepak bola Norwegia bahkan menjadi federasi pertama yang secara langsung menyerukan Infantino untuk turun dari jabatannya. Sementara itu, UEFA sebagai badan sepak bola Eropa juga telah menyatakan hilangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan presiden FIFA tersebut.
Dukungan Global Selatan vs Tekanan Eropa
Namun, persoalan ini tidak sesederhana pertarungan antara Eropa melawan Infantino. Selama sepuluh tahun menjabat, ia secara cermat membangun sekutu di kawasan global selatan. Pada Jumat lalu, Meksiko dan Argentina bahkan bergabung dengan sejumlah negara Afrika dalam menyatakan dukungan terhadap kelanjutan kepemimpinan Infantino, meskipun sikap itu berarti memutuskan solidaritas dengan federasi regional mereka sendiri.
Dukungan dari negara-negara berkembang ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh yang telah dibangun Infantino selama bertahun-tahun. Banyak federasi kecil merasa berutang budi kepadanya atas berbagai program pengembangan yang mereka terima. Namun, sikap ini justru memperjelas garis perpecahan di dalam tubuh FIFA dan membuat upaya penggulingan melalui tekanan internasional menjadi semakin rumit.
Dengan banyaknya federasi di kawasan global selatan yang tetap setia, tekanan dari Eropa saja tidak akan cukup untuk memaksa Infantino pergi. Kondisi inilah yang membuat situasi ke depan diperkirakan akan semakin kacau dan tidak menentu. Setiap langkah yang diambil oleh kubu Eropa berpotensi memicu reaksi balik dari kubu pendukung Infantino.
Ancaman Boikot dan Risiko Perang Saudara
UEFA dilaporkan telah mengancam akan memboikot kompetisi-kompetisi yang diselenggarakan FIFA jika Infantino tetap bertahan. Langkah pertama yang disebutkan dalam ancaman tersebut adalah memboikot Piala Dunia Wanita U-20 yang dijadwalkan digelar di Polandia bulan depan. Jika ancaman ini benar-benar diwujudkan, tentu akan menjadi langkah yang sangat serius dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola dunia.
Ancaman boikot tersebut merupakan konsekuensi logis dari penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh Infantino. Kesepakatan yang nyaris menggadaikan masa depan Piala Dunia kepada spekulan yang ingin mengeruk keuntungan adalah bentuk pelanggaran serius terhadap kepercayaan publik. Tanpa adanya konsekuensi yang nyata, Infantino akan terus bersikap seolah-olah ia bisa bertindak tanpa batas.
Ada tiga kemungkinan jalan keluar dari krisis ini, yakni:
- Infantino mengundurkan diri secara sukarela.
- Ia dipaksa keluar oleh tekanan dari berbagai pihak.
- Ia dikalahkan dalam pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang.
Jika tidak ada satu pun dari skenario tersebut yang terjadi, sepak bola dunia berisiko terjerumus ke dalam perang saudara yang tidak sehat. Semua ini terjadi hanya karena upaya satu orang untuk menjual aset paling berharga dalam olahraga ini dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Situasi ini jelas tidak menguntungkan siapa pun, kecuali mereka yang ingin melihat FIFA semakin terpuruk.
Kontroversi Bertubi-tubi dan Masa Depan FIFA
Ini bukan pertama kalinya Infantino terlibat dalam kontroversi besar. Sejak penghargaan Piala Dunia 2022 kepada Qatar yang dianggap mencurigakan, hingga penangguhan kartu merah yang dinilai tidak adil, ia sudah terbiasa memicu dan mengabaikan berbagai perdebatan. Namun, skandal penjualan saham Piala Dunia ini dinilai memiliki dampak yang jauh lebih besar karena menyangkut aset paling berharga dalam sepak bola dunia.
Menariknya, pernyataan resmi FIFA dari Rabat justru menyatakan bahwa organisasi tersebut “tidak akan lagi menoleransi serangan terhadap integritas, tata kelola yang baik, dan proses hukum yang berlaku”. Sikap yang dianggap sangat arogan ini justru menunjukkan betapa tidak sadarnya Infantino terhadap posisinya yang semakin terpojok. Alih-alih mengakui kesalahan, ia justru bersikap seolah-olah dialah yang menjadi korban dalam kasus ini.
Sebelum Piala Dunia Qatar, Infantino sempat menjadi bahan ejekan karena pernyataannya bahwa ia merasa “seperti gay” dan “seperti pekerja migran” sebagai respons terhadap para kritikus. Kini, saat kariernya berada di persimpangan jalan, banyak pihak berharap ia bisa menunjukkan kesadaran diri yang selama ini tampak kurang. Keputusan untuk mundur akan menjadi langkah terbaik bagi masa depan sepak bola dunia.
Krisis kepemimpinan yang melanda FIFA saat ini merupakan hasil dari akumulasi berbagai skandal dan penyalahgunaan kekuasaan selama bertahun-tahun. Tekanan dari Eropa, dukungan dari global selatan, dan ancaman boikot kompetisi menciptakan situasi yang sangat rumit bagi masa depan organisasi ini. Satu hal yang jelas: selama Gianni Infantino masih bertahan, perpecahan dalam sepak bola dunia akan semakin sulit untuk dihindari.
Langkah paling bijak bagi Infantino adalah mengundurkan diri sebelum keadaan semakin memburuk. Jika ia benar-benar mencintai sepak bola seperti yang sering ia nyatakan, maka ia seharusnya mampu menempatkan kepentingan olahraga ini di atas ambisi pribadinya. Hanya dengan kepemimpinan baru yang bersih dan dapat dipercaya, FIFA bisa mulai memulihkan kepercayaan publik serta kembali menjalankan perannya sebagai penjaga sepak bola dunia.