Masa depan Michael Carrick sebagai manajer Manchester United berada di ujung tanduk setelah timnya kalah 3-0 dari Bournemouth di Old Trafford pada Minggu. Kekalahan itu menjadi pukulan terbaru dalam rentetan hasil buruk yang membuat posisi Carrick kini dipertanyakan, bahkan oleh kalangan yang selama ini membelanya. Manajemen klub disebut tinggal menunggu waktu sebelum mengambil keputusan besar.
Tekanan ini muncul karena United baru mengumpulkan satu kemenangan dari delapan laga Premier League musim ini dan terpuruk di peringkat 16, terpaut 14 poin dari pemuncak klasemen. Bagi klub sebesar Manchester United, posisi itu jelas jauh dari harapan, terutama setelah musim lalu ditutup dengan tiket Liga Champions. Situasinya makin rumit karena kritik tidak hanya mengarah ke bangku pelatih, tetapi juga ke jajaran pemilik, departemen olahraga, dan para pemain.

Kekalahan 3-0 dari Bournemouth dan Posisi Carrick yang Makin Rawan
Kekalahan dari Bournemouth membuat Manchester United tercatat sebagai tim dengan start terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Mereka baru meraih tujuh poin dari delapan pertandingan Premier League, dengan rincian satu kemenangan, empat hasil imbang, dan tiga kekalahan. Itu adalah perolehan terendah mereka pada tahap musim yang sama sejak musim 1986-87, ketika baru mengumpulkan empat poin.
Kekalahan tersebut juga tercatat sebagai kekalahan kandang terberat United di Premier League sejak Desember 2024, yang ironisnya juga terjadi melawan Bournemouth dengan skor 3-0. Bagi Bournemouth, ini menjadi kemenangan ketiga mereka dengan selisih tiga gol atau lebih di Old Trafford, dan hanya Liverpool yang lebih sering melakukannya sejak 1992-93 dengan empat kali.
Yang lebih mengkhawatirkan, United kini sudah delapan pertandingan tanpa kemenangan di semua kompetisi dengan tiga hasil imbang dan lima kekalahan. Itu adalah rekor terburuk mereka sejak November hingga Desember 2015. Dalam rentetan itu, mereka sudah dua kali menelan kekalahan beruntun, padahal sepanjang musim 2025-26 sebelumnya belum pernah kalah dua laga liga secara berurutan.
Dari Manajer Interim ke Kontrak Permanen: Kilas Balik Carrick
Carrick, 45 tahun, awalnya masuk sebagai pelatih interim pada Januari menyusul kepergian Ruben Amorim. Ia kemudian mendapat kontrak permanen pada Mei setelah membawa United lolos ke Liga Champions melalui rangkaian hasil impresif yang mengantar tim finis di posisi ketiga. Pencapaian itu sempat membuat namanya dianggap sebagai solusi jangka panjang, bukan sekadar penambal sementara.
Namun sejak diberi jabatan permanen, Carrick baru memenangkan dua pertandingan Premier League. Kemenangan terakhir di liga terjadi pada 30 Agustus, saat United mengalahkan tim promosi Ipswich dengan skor 5-2. Sejak tanggal itu, tim belum lagi merasakan tiga poin di kompetisi domestik, dan grafik performa terus menurun dari pekan ke pekan.
Ketika ditanya apakah ia memperkirakan akan ada pembicaraan mengenai masa depannya, Carrick memilih menjawab hati-hati. “Lihat saja apa yang terjadi,” ujarnya kepada BBC Sport. Ia menegaskan tidak sedang menunggu apa pun dan hanya mencoba mencerna hasil hari itu, karena laga tersebut seharusnya menjadi momen untuk membawa tim bergerak maju. Ia juga mengakui bahwa emosi yang dirasakannya seusai pertandingan adalah sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Ketegangan di Ruang Ganti: Fernandes Dicadangkan, Martinez Minta Maaf
Salah satu keputusan paling disorot pada laga melawan Bournemouth adalah pilihan Carrick mencadangkan kapten Bruno Fernandes. Langkah itu diambil setelah gelandang asal Portugal tersebut mempertanyakan taktik Carrick dalam kekalahan 4-1 dari Como di Liga Champions pada Rabu sebelumnya. Keputusan tersebut menunjukkan adanya gesekan antara pelatih dan salah satu pemain seniornya.
Komentar Fernandes muncul setelah bek Lisandro Martinez menyampaikan permintaan maaf atas pernyataannya yang dianggap mengkritik jajaran petinggi klub. Martinez menyatakan ia berharap ada investasi lebih besar untuk skuad Manchester United dan menginginkan “lebih banyak” dari direktur teknis Jason Wilcox. Pernyataan itu menambah lapisan masalah di dalam klub, bukan hanya soal hasil di lapangan.
Meski begitu, Carrick tetap mendapat dukungan dari sebagian pemain. Dengan Fernandes berada di bangku cadangan, Harry Maguire dipercaya mengenakan ban kapten pada laga itu. Usai pertandingan, bek asal Inggris tersebut menegaskan bahwa ruang ganti sepenuhnya berada di belakang sang manajer dan menilai masalah utama terletak pada performa individu para pemain.
Dukungan Fans, Kritik Neville, dan Tekanan pada Petinggi Klub
Salah satu pemandangan paling menyentuh pada laga itu terjadi setelah peluit panjang, ketika Carrick berkeliling lapangan untuk memberi tepuk tangan kepada para pendukung. Fans membalas dengan menyanyikan lagu khusus untuknya, mengingat ia pernah menghabiskan 12 tahun dan mencatat 464 penampilan bersama Manchester United sebagai pemain. Ikatan emosional itu membuat posisinya berbeda dibanding manajer lain yang pernah gagal di klub.
Carrick sendiri menegaskan bahwa momen tersebut bukanlah perpisahan. Ia mengaku memiliki perasaan campur aduk, terutama karena para pemainnya sedang melewati masa sulit dan sebagian persoalan berada di luar kendalinya. Ia tetap menghargai dukungan suporter, tetapi menyadari bahwa hasil dan performa tim belum memadai.
Mantan bek Manchester United, Gary Neville, menilai nyanyian fans justru menunjukkan bahwa mereka sudah bisa membaca apa yang akan terjadi berikutnya. Menurutnya, fans tahu Carrick adalah sosok populer dan bagian dari klub, sementara pemilik, departemen olahraga, dan para pemain tidak mendapat simpati serupa karena dianggap mengecewakan klub. Neville menyebut dua nama, Omar Berrada dan Jason Wilcox, sebagai pihak yang kemungkinan besar akan mengambil keputusan yang tidak disukai fans, tetapi dianggap perlu. “Ini benar-benar kekacauan,” ujarnya.
Setelah Carrick meninggalkan lapangan, nyanyian dukungan berubah menjadi cemoohan yang diarahkan kepada para pemain dan jajaran klub. Mantan penyerang Premier League, Clinton Morrison, menyebut hal itu sebagai tanda yang sangat mengkhawatirkan karena fans jelas membedakan antara pelatih dan skuad. Menurutnya, para pemain memang tidak tampil cukup baik dan wajar mendapat sorakan negatif, sebab ada batas kemampuan seorang manajer untuk menutupi kelemahan tim. Mantan bek Ashley Young menambahkan bahwa para pemain tidak menunjukkan usaha, tidak berlari, dan tidak tampil sebagai satu kesatuan tim.
Maguire: Kami Sepenuhnya di Belakang Carrick
Di tengah spekulasi yang memanas, Maguire menegaskan bahwa para pemain tidak sedang meninggalkan pelatihnya. Ia mengingatkan bahwa Carrick datang musim lalu, membalikkan keadaan, dan mengantar klub kembali ke Liga Champions. Karena itu, ia menilai sorotan seharusnya juga diarahkan pada kualitas penampilan individu pemain yang dinilainya belum cukup baik.
Maguire juga menyebut bahwa bermain untuk Manchester United selalu berarti hidup dalam jarak dua atau tiga pertandingan dari perubahan besar. Para pemain dituntut menemukan sesuatu dalam diri mereka untuk membantu klub dan keluar dari situasi sulit ini. Ia yakin tim akan kembali memenangkan pertandingan, tetapi menekankan bahwa hal itu harus segera terjadi.
Seberapa Buruk Awal Musim Manchester United?
Data menunjukkan bahwa masalah United bukan sekadar soal hasil, melainkan tren yang sudah berlangsung cukup lama. Sejak musim 2023-24, tidak ada klub Premier League yang kalah lebih banyak di kandang dengan selisih tiga gol atau lebih di semua kompetisi selain Manchester United, yaitu sebanyak tujuh kali. Catatan itu memperlihatkan kerapuhan yang berulang, bukan insiden tunggal.
Kombinasi kekalahan kandang besar, rentetan laga tanpa kemenangan, dan posisi di papan bawah membuat tekanan terhadap Carrick makin sulit dibendung. Di sisi lain, kedekatannya dengan fans memberi ruang simpati yang tidak dimiliki para petinggi klub. Ketegangan antara dua kubu ini membuat keputusan soal masa depan sang manajer menjadi semakin rumit secara politik, bukan hanya soal taktik.
Penutup
Masa depan Michael Carrick di Manchester United kini bergantung pada keputusan manajemen dalam waktu dekat, setelah serangkaian hasil buruk mencapai titik terendah dengan kekalahan 3-0 dari Bournemouth. Carrick tetap mendapat dukungan fans dan secara terbuka disebut masih dipercaya ruang ganti, tetapi rekor satu kemenangan dari delapan laga liga menjadi beban yang sulit diabaikan.
Terlepas dari apa pun keputusan yang diambil, persoalan Manchester United jelas lebih luas daripada sosok pelatih. Kritik yang mengarah ke pemilik, direktur teknis, dan kualitas skuad menunjukkan bahwa pergantian manajer mungkin hanya menjadi langkah awal dari pembenahan yang jauh lebih besar.