Tottenham Premier League 2026-27 dimulai dengan modal yang jarang terlihat dalam tiga dekade terakhir: belanja transfer besar-besaran, pelatih top asal Italia, dan optimisme yang nyaris asing bagi suporter Spurs. Setelah dua musim beruntun finis di peringkat 17 Premier League, klub asal London Utara ini kini diprediksi para penulis Guardian finis di posisi keenam pada musim ini. Perbedaan itu mencerminkan seberapa drastis arah klub berubah dalam hitungan bulan.
Perubahan ini tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Roberto De Zerbi, pelatih Italia yang gaya kepelatihannya dikagumi Pep Guardiola, tiba pada saat Tottenham nyaris terdegradasi setelah era Igor Tudor yang berantakan. Kedatangannya menjadi koreksi yang dinanti-nanti suporter, yang selama bertahun-tahun mengeluhkan klub yang pelit mengeluarkan uang dan selalu mencari jalan pintas.

Tottenham Premier League 2026-27: Bangkit dari Bayang-Bayang Degradasi
Tottenham selalu mengukur harapan musim ini dari apa yang salah di dua musim sebelumnya. Pada musim panas tahun lalu, kedatangan Thomas Frank sempat memberi optimisme besar, tetapi kenyataannya Spurs justru tampil lebih buruk daripada musim 2024-25. Meski lolos fase grup Liga Champions dengan cukup baik, kompetisi Eropa sama sekali tidak menyelamatkan pelatih yang tidak cocok maupun hierarki klub yang dianggap tidak meyakinkan.
Frank kemudian nyaris terlupakan karena jeda singkat Igor Tudor, periode yang diibaratkan banyak orang seperti film bencana. Tottenham berada di ambang degradasi hingga hari-hari terakhir musim, sebuah saga yang menarik perhatian para pengamat luar. De Zerbi datang sebagai koreksi yang sangat dibutuhkan, meski kehadirannya tidak murah dan datang dengan banyak persyaratan.
De Zerbi meminta gaji tinggi, kendali yang jauh lebih penuh dibanding pendahulunya, dan anggaran transfer yang layak untuk mendatangkan pemain siap pakai. Semua permintaan itu dipenuhi, walau satu kekurangan masih mencolok: tidak adanya striker level atas di skuad Spurs. Ini menjadi pekerjaan rumah terbesar pelatih asal Italia itu di sisa bursa transfer.
Belanja Besar yang Mengingatkan pada Era Keemasan
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Tottenham menjadi salah satu pembelanja terbesar di bursa transfer. Nama-nama anyar berdatangan untuk memperkuat skuad De Zerbi, di antaranya:
- Jan Paul van Hecke: bek tengah baru yang nantinya berduet dengan Micky van de Ven.
- Mateus Fernandes dan Sandro Tonali: tambahan berkualitas di lini tengah; Tonali ditebus dengan mahar 100 juta pound.
- Savinho dan Omar Marmoush: dua pemain yang diharapkan menyusul dari Manchester City.
- Andy Robertson: pemain senior berpengalaman sebagai penyeimbang skuad muda.
Besarnya pengeluaran ini mengingatkan para pengamat pada era Terry Venables yang mengumpulkan Paul Gascoigne dan Gary Lineker di White Hart Lane pada akhir 1980-an, atau banjir bakat asing pertengahan 1990-an seperti Jürgen Klinsmann dan Ilie Dumitrescu. Kilau glamor semacam itu memang khas Tottenham lawas. Namun, di sisi lain, Cristian Romero telah pergi — pemain berbakat yang kelemahannya kerap merugikan rekan setim, sekaligus simbol era Spurs yang baru saja berakhir.
Keuangan Klub: Mesin Uang di Balik Layar
Finis ke-17 dua musim beruntun jelas buruk bagi neraca keuangan klub. Laporan keuangan Tottenham tahun 2025 menunjukkan pendapatan 34,7 juta pound dari kemenangan Liga Europa terhapus oleh defisit 38,9 juta pound dari pendapatan Premier League. Keikutsertaan di Liga Champions musim lalu membantu dengan tambahan 71,6 juta pound, tetapi musim ini tidak ada dana Eropa yang bisa diandalkan.
Untungnya, Tottenham Hotspur Stadium tetap menjadi mesin uang yang andal. Berbagai acara besar dijadwalkan untuk mengisi kalender stadion sepanjang musim:
- Jay-Z tampil pada jeda internasional September, setelah System of a Down menggelar konser pada Juli.
- Dua pertandingan musim reguler NFL akan digelar di stadion tersebut pada Oktober.
Aliran pendapatan itu menjadi bantalan finansial Spurs, ditambah penerbitan saham Agustus yang meraup 100 juta pound. Artinya, klub memiliki ruang gerak yang cukup untuk membangun skuad meski tanpa kompetisi Eropa musim ini. Dengan kata lain, meski prest