Spanyol kembali menorehkan prestasi gemilang di pentas sepak bola dunia. Setelah menjadi juara Eropa dua tahun lalu di Berlin, La Roja kini resmi menyandang gelar juara dunia usai mengalahkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia 2026 yang digelar di New Jersey. Keberhasilan ini menegaskan dominasi Spanyol yang luar biasa di level senior, baik tim putra maupun putri.
Ini bukan sekadar kemenangan biasa. Spanyol menjadi negara pertama yang secara bersamaan memegang gelar juara Piala Dunia putra dan putri – tim putri menaklukkan Inggris di final Piala Dunia Wanita 2023 di Sydney. Ditambah lagi, tim putra memenangkan Nations League 2023 dan emas Olimpiade 2024, sementara tim putri merebut Nations League pada 2024 dan 2025. Total, dalam lima tahun terakhir, Spanyol telah mengoleksi 16 gelar level dunia dan Eropa, mulai dari kelompok umur U-17 hingga senior.

Rahasia Dominasi Spanyol: Budaya Kemenangan yang Berakar
Menurut pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, keberhasilan ini bukanlah kebetulan. “Ini seperti badai sempurna. Secara kultural, kami melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Semua orang percaya pada sistem itu. Yang terpenting, kami tidak berhenti,” ujarnya kepada BBC Sport. Balague menyebut pencapaian ini sebagai Everest baru, karena sebelum ini tim putra memenangi Piala Dunia 2010 dua tahun setelah juara Euro 2008, dan kini pola yang sama terulang.
Dominasi Spanyol terlihat dari berbagai level. Di sepak bola putri, dalam kurun 2022–2026 mereka meraih 11 gelar, termasuk Piala Dunia 2023, dua Nations League, dan lima gelar juara Eropa U-19 berturut-turut. Sementara di putra, ada 5 gelar senior dan U-23 seperti Piala Dunia 2026, Euro 2024, Nations League 2023, medali emas Olimpiade 2024, dan satu gelar Eropa U-19. Prestasi ini menunjukkan betapa solidnya pembinaan usia muda di Spanyol.
Luis de la Fuente: Keputusan Berisiko yang Berbuah Manis
Ketika Luis de la Fuente ditunjuk sebagai pelatih kepala pada Desember 2022, hanya sedikit yang membayangkan ia akan mempersembahkan Nations League 2023, Euro 2024, dan Piala Dunia 2026 dalam waktu singkat. Saat itu Spanyol baru saja tersingkir dari Piala Dunia Qatar oleh Maroko di babak 16 besar. Federasi membutuhkan pengganti Luis Enrique, dan pilihan jatuh pada De la Fuente yang sebelumnya menangani tim junior.
“Ini keputusan yang sangat berisiko. Saya rasa tidak ada yang mengira ia akan sesukses ini,” kata Balague. De la Fuente memang tidak pernah melatih klub besar; karier kepelatihannya dihabiskan di level bawah Spanyol, tim muda, dan asisten pelatih. Namun, pengalamannya bersama tim U-19, U-21, dan Olimpiade membuatnya memahami karakter para pemain muda yang kini menjadi tulang punggung tim senior. Mantan gelandang Spanyol, Juan Mata, menambahkan, “De la Fuente sudah mengenal sebagian besar pemain dari akademi. Mereka tumbuh sebagai tim. Ini bukan hanya tim untuk saat ini, tetapi juga untuk masa depan.”
De la Fuente menerapkan budaya saling menghormati lawan, menghargai proses, serta mengedepankan kesabaran dan ketenangan. Dalam konferensi pers jelang final, ia berkata, “Setelah pertandingan usai, ada pemain yang bertanya, ‘pelatih, apa lagi yang bisa kami menangkan? Kami sudah memenangkan segalanya di semua kategori.’ Kami sampai pada kesimpulan bahwa yang tersisa hanyalah pertandingan berikutnya di bulan September, karena tim ini tidak pernah puas.”
Keberhasilan tim nasional dan para pelatih Spanyol juga berdampak ke level klub. Meski Pep Guardiola meninggalkan Manchester City setelah 10 tahun penuh gelar, setidaknya seperempat manajer yang memulai musim 2026/27 Premier League berasal dari Spanyol. Timnas Spanyol kini tidak terkalahkan dalam 38 pertandingan terakhir di semua kompetisi – rekor terpanjang yang pernah dicatat oleh tim Eropa atau Amerika Selatan.
Kebangkitan Sepak Bola Wanita Spanyol
Sepak bola wanita di Spanyol berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Kemenangan atas Inggris di final Piala Dunia Wanita 2023 baru terjadi pada penampilan ketiga mereka di turnamen tersebut (debut 2015). Kesuksesan itu kemudian diikuti dengan dua gelar Nations League beruntun.
Mantan pemain yang kini menjadi jurnalis, Maria Garrido, menceritakan perubahan signifikan. “Sepuluh tahun lalu, saat saya bermain untuk FC Barcelona, tidak ada La Masia untuk anak perempuan. Kami menanggung biaya transportasi sendiri, orang tua mengantar kami latihan, dan kami tidak mendapat uang. Namun dalam lima tahun terakhir, situasi berubah drastis. Ada dorongan besar untuk memajukan sepak bola wanita, termasuk lebih banyak kategori usia, fasilitas yang lebih baik, dan akademi khusus untuk perempuan. Transformasi ini merevolusi olahraga dan meningkatkan rasa hormat terhadap sepak bola wanita di Spanyol.”
Keberhasilan di level senior tidak lepas dari gelar-gelar yang diraih di level junior selama satu dekade terakhir. Budaya kemenangan itu terus berlanjut sehingga dominasi Spanyol semakin kokoh.
Masa Depan Cerah: Generasi Muda Berbakat
Melihat ke depan, banyak pihak yakin dominasi Spanyol masih akan berlanjut. Di tim putra, ada Lamine Yamal dan Pau Cubarsi yang baru berusia 19 tahun namun sudah mengoleksi medali juara Piala Dunia. Yamal menjadi pemain termuda ketiga yang tampil di final Piala Dunia, setelah Pele (1958) dan Giuseppe Bergomi (1982). Bersama Cubarsi, Spanyol menjadi tim pertama yang menurunkan dua remaja dalam satu final Piala Dunia.
Di tim putri, Vicky Lopez (19 tahun) sudah tiga kali juara Liga Champions bersama Barcelona. Penyerang Salma Paralluelo juga telah membela negaranya lebih dari 50 kali sebelum usia 23 tahun. Bakat-bakat muda ini menjadi fondasi keberlanjutan prestasi.
Mantan penjaga gawang Inggris, Joe Hart, memberikan pujian setelah kemenangan atas Argentina: “Spanyol punya cara bermain yang belum terbukti bisa didekati tim mana pun di dunia. Tidak ada yang bisa menyentuh mereka di Piala Dunia ini – hanya 10 tembakan tepat sasaran yang dihadapi selama turnamen.” Thierry Henry, legenda Prancis, menambahkan, “Saya ingin memberi penghargaan pada sistem dan apa yang mereka terapkan. Karena Spanyol dulu tidak pernah menang seperti ini. Kini mereka menang di setiap level.”
Dominasi Spanyol di sepak bola bukanlah fenomena sesaat. Kombinasi sistem pembinaan yang matang, filosofi permainan yang diyakini semua kalangan, serta munculnya bakat-bakat muda berkualitas membuat La Roja diperkirakan akan terus mendominasi panggung sepak bola dunia dalam beberapa tahun ke depan. Kemenangan demi kemenangan seolah menjadi menu sehari-hari bagi tim yang kini dijuluki sebagai mesin gelar.