Sebanyak 10 dari 20 klub Premier League, atau tepatnya separuh kompetisi, ternyata masih terikat kerja sama sponsor atau iklan dengan perusahaan judi yang tidak memegang lisensi Inggris. Jika larangan sponsor judi ilegal yang tengah disiapkan pemerintah Inggris benar-benar berlaku tahun depan, kemitraan semacam itu bisa berstatus melanggar hukum. Dampaknya tentu tidak kecil: klub-klub papan atas Inggris berpotensi kehilangan pendapatan komersial hingga puluhan juta pounds.
Rencana ini tengah berada dalam masa konsultasi selama delapan pekan yang akan berakhir pada Rabu. Dalam konsultasi itu, operator berlisensi seperti Ladbrokes dan William Hill berseberangan dengan Premier League, dan hasilnya sangat menentukan masa depan pendapatan klub. Premier League sendiri disebut-sebut melobi keras agar larangan tidak jadi diberlakukan karena layanan bandar yang menyasar pasar Asia serta kasino online dinilai tidak tersedia di Inggris.

Jumlah Klub dengan Sponsor Judi Ilegal Kian Bertambah
Analisis menunjukkan bahwa jumlah klub papan atas yang memiliki hubungan komersial dengan operator tanpa izin meningkat dari enam klub menjadi sepuluh klub sepanjang musim panas ini. Lonjakan ini diduga kuat berkaitan dengan keputusan Premier League yang mulai musim ini memberlakukan larangan sukarela untuk sponsor judi di bagian depan jersey pemain. Begitu ruang di jersey menutup, sejumlah klub justru mengalihkan kerja sama serupa ke lengan jersey, perlengkapan latihan, atau papan iklan stadion.
- Everton mengumumkan kerja sama sponsor lengan jersey selama tiga tahun dengan Stake.com, kasino berbasis mata uang kripto.
- Fulham memindahkan sponsor SBOTOP dari jersey pemain ke perlengkapan latihan tim.
- Delapan klub lain, termasuk Chelsea dan Tottenham, memiliki kerja sama komersial yang mencakup iklan papan perimeter stadion dan/atau branding pemain.
- 8XBet, perusahaan berlisensi di pulau Curaçao, Karibia, tercatat menjalin kerja sama dengan Chelsea, Newcastle, Aston Villa, Ipswich, dan Coventry.
Fakta bahwa kerja sama semacam ini justru bertambah di tengah rencana pelarangan tentu memicu kekhawatiran para pengamat industri. Klub-klub dinilai masih sangat bergantung pada suntikan dana sponsor, sementara tuntutan regulasi semakin ketat. Di sisi lain, klub yang bersedia bekerja sama dengan operator tanpa izin dianggap ikut mempromosikan layanan yang tidak memberikan perlindungan konsumen memadai.
Alasan Inggris Melarang Sponsor Judi Ilegal
Pasar perjudian yang tidak diatur memang tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Campaign for Fairer Gambling, operator tanpa izin meraup 379 juta pounds dari pengguna di Inggris pada paruh pertama 2025. Angka ini setara 9 persen dari total pasar game online Inggris yang nilainya 8,2 miliar pounds, naik tajam dari porsi 2 persen pada 2022.
Pemerintah bergerak karena operator tanpa izin tidak diwajibkan menyediakan perlindungan konsumen seperti affordability checks dan batas belanja yang selama ini menjadi standar operator berlisensi. Pertumbuhan pasar judi yang tak diawasi juga telah dikaitkan dengan kerugian finansial, kecanduan, hingga kasus bunuh diri. Meski operator ini mengklaim tidak menawarkan layanan di Inggris, siapa pun sebenarnya bisa membuka akun dan memasang taruhan hanya dalam hitungan menit menggunakan VPN.
Entain Desak Klub: Risiko Nyata bagi Integritas Sepak Bola
Entain, salah satu perusahaan taruhan terbesar di Inggris yang menaungi Ladbrokes, pekan ini mengirim surat kepada sepuluh klub Premier League yang disebut terkait operator tanpa izin. Surat yang ditujukan ke Everton bahkan secara khusus menyoroti posisi Perdana Menteri Andy Burnham yang selama ini dikenal sebagai pendukung setia klub. Burnham disebut hadir dalam laga pembuka musim Everton melawan Crystal Palace, sehingga keterkaitan Everton dengan Stake.com dinilai bertentangan dengan sikap politiknya.
Dalam suratnya, Entain menulis, “Risiko terhadap sepak bola, integritas olahraga, dan masyarakat benar-benar nyata.” Entain mengingatkan bahwa operator tanpa izin tidak diwajibkan menghadirkan pengaman seperti self-exclusion Gamstop, batas deposit dan belanja, serta pemeriksaan keterjangkauan yang harus dipenuhi operator berlisensi. Tanpa perlindungan itulah konsumen rentan disebut menjadi pihak yang paling dirugikan. “Asosiasi Everton dengan Stake.com sangat bertentangan dengan dukungan lama perdana menteri terhadap klub,” tulis Entain. “Tidak terbayangkan, setelah pemerintahnya memperjelas penolakan terhadap perjanjian judi tanpa izin, Andy Burnham akan menjadi papan iklan perjudian yang tidak diatur dengan mengenakan seragam klub saat ini.”
Sementara itu, dalam korespondensi dengan operator, Menteri Perjudian Vicky Foxcroft disebut-sebut telah menegaskan bahwa pemerintah berencana memberlakukan larangan pada tahun depan. Namun rencana itu akan menghadapi tekanan dari Premier League yang ingin kontrak yang sudah berjalan, seperti milik Everton, tetap dihormati hingga selesai. Tekanan semacam ini menunjukkan taruhan besar di balik aturan yang masih disusun tersebut.
Sponsor Judi Ilegal dan Ancaman ke Hak Siar Premier League
Keinginan Premier League melindungi aliran pendapatan klub memang bisa dipahami, tetapi keengganan liga memberantas operator judi tanpa izin juga menyimpan risiko besar. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa perusahaan bandar yang tidak diatur menjadi salah satu pendana utama pembajakan hak siar olahraga melalui iklan. Lonjakan streaming ilegal pun disebut mengancam nilai hak siar Premier League yang mencapai 12 miliar pounds.
Laporan nasional Campaign for Fairer Gambling 2024-25 menyoroti hubungan simbiosis antara pembajakan olahraga dan perjudian tanpa izin. Sekitar 89 persen streaming ilegal di Inggris terbukti menampilkan iklan bandar judi pasar gelap. Sponsor klub juga dinilai menjadi pintu masuk penting bagi penonton menuju pasar judi gelap; studi Frontier Economics yang dikutip dokumen konsultasi pemerintah menyebut kerja sama sponsor sebagai pendorong kesadaran konsumen terhadap operator tanpa izin terbesar kedua setelah iklan media sosial.
Nasib Sponsor Judi Ilegal di Premier League
Rencana larangan sponsor judi ilegal disebut-sebut akan diperkenalkan tahun depan, tetapi nasib kontrak yang sudah diteken masih menjadi medan pertarungan terbesar. Premier League diprediksi akan terus menekan pemerintah agar kontrak yang berjalan bisa diselesaikan sampai akhir, sementara kampanye antiperjudian dan operator berlisensi mendorong aturan ditegakkan tanpa kompromi. Keputusan yang keluar nanti akan menjadi preseden penting bagi masa depan hubungan sepak bola Inggris dengan industri perjudian.
Satu hal yang pasti, persoalan ini bukan lagi sekadar soal nominal sponsor semata. Ini menyangkut reputasi klub, integritas kompetisi, dan nasib konsumen yang paling rentan terhadap dampak perjudian. Karena itu, tekanan kepada klub-klub Premier League untuk menjauh dari sponsor judi ilegal diperkirakan akan terus menguat, apa pun hasil konsultasi kali ini.