Sorakan ribuan orang di tribun Kop, Anfield, pada 15 April 2009 menjadi titik balik panjang bagi perjuangan keadilan Hillsborough. Ketika itu Andy Burnham, Menteri Kebudayaan, Media, dan Olahraga Inggris, tengah berpidato dalam peringatan 20 tahun tragedi yang menewaskan 96 penonton. Chant “Justice for the 96” yang menggema dari tribun membuat seluruh negeri, dari ruang keluarga hingga istana kekuasaan, tidak bisa lagi mengabaikan tuntutan keluarga korban.
Peristiwa itu bukan sekadar momen emosional di sebuah stadion sepak bola. Selama dua dekade, keluarga korban merasa negara tidak pernah mengakui kesalahan maupun membuka jalan menuju kebenaran. Kehadiran Burnham di depan tribun Kop justru membuka ruang bagi kemarahan yang lama terpendam, dan momen singkat itulah yang kemudian mendorong lahirnya penyelidikan resmi hingga putusan pengadilan pada 2016.

Jejak Duka di Anfield Menjelang Peringatan 20 Tahun
Sejak fajar, warga yang datang dari tempat sejauh Australia mulai menaruh bunga, syal, dan pesan-pesan di bawah Eternal Flame di Anfield. Upacara peringatan tahunan tragedi Hillsborough biasanya berlangsung tenang dan penuh penghormatan, dengan sekitar 10.000 pelayat duduk di tribun Kop untuk memberi dukungan moral kepada keluarga korban di hari-hari tersulit mereka. Namun, pada peringatan ke-20 tahun itu, suasana terasa berbeda dan menyimpan ketegangan yang sulit dijelaskan.
Satu jam sebelum acara dimulai, tribun Kop sudah penuh dan jumlah orang di tiga tribun lainnya mulai membengkak. Ketika Brian Reade berjalan bersama keluarga korban dari titik pertemuan di Centenary Stand menuju kursi di barisan depan Kop, sebanyak 29.000 orang yang memadati Anfield berdiri dan memberi tepuk tangan paling lantang serta paling tulus bagi mereka. Setelah dua dekade berlalu, luka Hillsborough masih menganga, dan kemarahan masih membara karena tidak ada satu pun pihak di atas yang mengakui kesalahan.
Para pemain skuad 1989 hadir dengan dahi berkerut dan raut murung, seolah menegaskan bahwa mereka belum mampu melepaskan bekas luka mental dari masa itu, ketika mereka dipaksa berubah dari atlet menjadi pendamping duka bagi keluarga korban. Mereka duduk di belakang keluarga korban dan disambut tepuk tangan hangat. Sejumlah bintang tim saat itu, termasuk Steven Gerrard yang kehilangan sepupunya, Jon-Paul Gilhooley, dalam usia 10 tahun, serta Jamie Carragher, ikut hadir mendampingi.
Setelah 20 tahun, orang mungkin mengira semua air mata telah habis. Kenyataannya, ketika 96 lilin dinyalakan di mulut gawang tribun Kop dan nama-nama korban dibacakan oleh pemuka agama, tangis tetap mengalir. Tubuh terasa dingin dan lemas saat dua menit hening hanya dipecah oleh tangis bayi. Di luar stadion, bus, kereta, dan kapal feri di kota itu berhenti beroperasi, sementara lonceng gereja menandai berakhirnya masa hening sebagai tanda bahwa dunia yang lebih luas pun ikut berhenti mengenang hari yang seharusnya tak pernah dilupakan.
Margaret Aspinall dan Keberanian Mengundang Andy Burnham
Andy Burnham, yang lahir di Liverpool dan merupakan penggemar Everton, saat itu menjabat sebagai menteri kebudayaan, media, dan olahraga. Kehadirannya sebagai pembicara terbilang kontroversial, sebab ia diundang langsung oleh Margaret Aspinall, perempuan yang kehilangan putranya, James, pada usia 18 tahun di Hillsborough dan kala itu menjabat ketua Family Support Group. Menurut Aspinall, tidak pernah ada anggota parlemen yang diizinkan berbicara di upacara itu karena keluarga korban nyaris tidak pernah menerima dukungan berarti dari para politisi, namun ia ingin memberi Burnham kesempatan.
Burnham sendiri bergulat batin sebelum menerima undangan itu, karena ia tahu pemerintah Partai Buruh di bawah Gordon Brown tidak membawa tawaran baru bagi keluarga korban. Pria yang pada hari terjadinya Hillsborough sedang menonton Everton melawan Norwich di Villa Park dalam semifinal Piala FA lainnya itu sadar tidak akan pernah memaafkan dirinya jika mundur dari kesempatan berpidato. Kekhawatiran utamanya bukan soal politik, melainkan apakah ia sanggup menyelesaikan pidato tanpa menangis.
Kekhawatiran itu beralasan. Ia berdiri di depan tribun Kop yang sarat emosi, di tengah rasa dikhianati karena pemerintah Buruh telah berkuasa selama 12 dari 20 tahun sejak tragedi namun tidak melakukan apa pun untuk memperlancar tuntutan pengungkapan kebenaran. Situasi itu membuat setiap kata yang diucapkan seorang menteri berpotensi memicu reaksi keras dari tribun.
Chant “Justice for the 96” dan Titik Balik Perjuangan Keadilan Hillsborough
Burnham memulai pidatonya dengan baik. Ketika ia menyebut tragedi olahraga terburuk di Inggris itu sebagai peristiwa buatan manusia dan memuji tindakan para penggemar hari itu, ia mendapat anggukan setuju dan riak tepuk tangan. Namun, ketika ia menyampaikan pesan dari perdana menteri bahwa para korban tidak akan pernah dilupakan, untuk pertama kalinya dalam upacara peringatan semacam itu sebagian tribun Kop bersorak cemooh, disertai teriakan “Kapan kami mendapat keadilan?” dan pekikan “Munafik”.
Reaksi itu mengejutkan semua orang dan menghentikan Burnham di tengah kalimat. Ia tampak terguncang, kelu, dan menatap tribun Kop dengan gugup tanpa tahu harus berkata apa. Saat itulah, dari bagian belakang tribun, chant “Justice for the 96” pecah dan dengan cepat menyebar ke seluruh tribun serta penjuru Anfield. Pesannya sederhana: kata-kata itu mudah, tindakan jauh lebih sulit. Burnham adalah pejabat senior dari pemerintahan Buruh yang telah menutup kemungkinan penyelidikan baru atas Hillsborough, dan tribun menolak dihibur dengan kalimat-kalimat manis karena itu bukan hanya menghina yang hidup, tetapi juga yang telah meninggal.
Dengan bijak, Burnham mengangguk ke arah tribun Kop seolah berkata bahwa ia memahami pesan itu. Margaret Aspinall, yang duduk tepat di depannya, mengaku tegang sepanjang pidato tersebut. Ketua mereka sebelumnya, Trevor Hicks, menatapnya seakan bertanya apa yang telah ia perbuat dan mendesaknya bicara, namun Aspinall memilih membiarkan chant itu berlanjut. Menurutnya, biarlah tribun Kop yang menyampaikan kepada pemerintah dan seluruh negeri betapa besar kemarahan yang mereka rasakan.
Naluri Aspinall terbukti tepat. Pemandangan dramatis seorang menteri kabinet dicemooh dalam upacara peringatan menghiasi seluruh bulletin berita sepanjang hari itu dan menjadi headline hampir semua halaman depan surat kabar keesokan harinya.
Dari Sorakan Kop ke Panel Independen hingga Putusan 2016
Burnham kemudian mengaku tidak terkejut ketika chant keadilan pertama bergema dari tribun Kop, karena ia setengah menduganya, dan ia justru ingin seluruh negeri mendengarnya. Ia menegaskan bahwa orang-orang di tribun Kop hari itu benar telah mencemoohnya, dan ia tidak menyimpan dendam kepada siapa pun yang berteriak. Menurutnya, peristiwa itu justru membantunya menemukan keberanian politik untuk bertindak.
Ia mendesak Gordon Brown menyimak seruan tribun Kop, dan meski ada penolakan dari sebagian anggota kabinet, perdana menteri mendukungnya. Pada akhir 2009, Hillsborough Independent Panel dibentuk dan menugaskan para ahli untuk meneliti ratusan ribu dokumen terkait tragedi itu yang belum pernah dibuka. Laporan akhir panel pada 2012 mengungkap rentetan kesalahan fatal polisi dan layanan darurat, menunjukkan bahwa puluhan nyawa sebenarnya bisa diselamatkan, serta membongkar penutupan fakta secara besar-besaran.
Perdana menteri dari Partai Konservatif, David Cameron, harus menyampaikan permintaan maaf mendalam kepada keluarga korban dan para penggemar Liverpool dari lantai parlemen. Putusan inquest awal yang menyebut “kematian karena kecelakaan” dibatalkan dan inquest baru digelar. Pada 2016, inquest baru itu menghasilkan 96 putusan “unlawful killing” atau pembunuhan tidak sah, sekaligus membersihkan nama para penggemar dari segala tuduhan.
Aspinall menegaskan bahwa putusan tersebut tidak akan pernah tercapai tanpa dukungan tribun Kop. Menurutnya, para penggemar memainkan peran vital selama bertahun-tahun dalam mendampingi keluarga korban dan menuntut akuntabilitas, tetapi titik baliknya benar-benar terjadi ketika chant keadilan menggema di depan Andy Burnham. Ia menyebut hari itu sebagai momen ketika tribun Kop mengubah segalanya.
Lima Tahun Berselang, Banner Terima Kasih untuk Burnham
Lima tahun kemudian, Burnham kembali diundang untuk berbicara pada peringatan 25 tahun. Kali ini ia tidak disambut cemoohan, sorakan, atau teriakan munafik, melainkan sebuah spanduk bertuliskan “Thank You, Andy Burnham”. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa perubahan terjadi bukan karena dirinya, melainkan karena seluruh orang yang hadir dan berani menyuarakan pendapat mereka.
Ia mengingat bagaimana suara tribun Kop itu menyebar ke setiap ruang keluarga di negeri itu dan masuk ke jantung kekuasaan. Burnham mengaku tahu bahwa para penggemar benar dan pihak berwenang salah, dan chant keadilan itulah yang membuat bendungan penolakan jebol. Menurutnya, tribun sedang mengajukan pertanyaan paling mendasar tentang negara dan cara pengelolaannya: bagaimana mungkin sebuah kota meneriakkan ketidakadilan selama 20 tahun tanpa ada yang mendengarkan.
Dalam pidato itu ia juga menyampaikan bahwa jalan ke depan masih belum pasti, tetapi negara kini berdiri bersama keluarga korban. Ia yakin keluarga korban akan menang berkat dukungan semua pihak, dan menilai tribun Kop telah membuat kota itu lebih kuat serta akan membuat negara lebih adil. Seruan lima tahun sebelumnya, katanya, kini menjadi seruannya pula: keadilan bagi 96 korban.
Warisan Kop dan Catatan Sejarah yang Dibukukan
Kisah ini menjadi salah satu bab dalam buku The Kop: A Fan’s History of Football’s Most Famous Stand karya Brian Reade, yang diterbitkan Quercus. Reade menyusun catatan itu dari pengalamannya sendiri berada di tengah keluarga korban dan tribun Kop pada 2009, sehingga detail suasana hari itu tersaji dari sudut pandang seorang saksi langsung, bukan sekadar rekonstruksi peristiwa.
Bagi Liverpool dan dunia sepak bola secara umum, peristiwa itu menunjukkan bahwa tribun penonton bukan hanya tempat mendukung tim, tetapi juga bisa menjadi ruang kolektif untuk menuntut akuntabilitas. Tekanan yang datang dari bawah, bukan dari meja-meja kekuasaan, terbukti mampu memaksa pembukaan dokumen rahasia dan mengubah arah kebijakan negara terhadap sebuah tragedi yang telah lama dibungkam. Peran keluarga korban yang gigih selama puluhan tahun menjadi bagian penting dari keberhasilan itu.
Perjalanan keadilan Hillsborough memperlihatkan bahwa perubahan besar bisa berawal dari satu momen di sebuah stadion. Ketika 29.000 orang berdiri, mengheningkan cipta, lalu meneriakkan tuntutan keadilan, pesan mereka melampaui dinding Anfield dan memaksa institusi tertinggi negara merespons. Chant “Justice for the 96” pada 2009 bukan sekadar luapan emosi, melainkan titik balik yang mengantar pada panel independen, pembatalan putusan lama, dan putusan unlawful killing pada 2016.
Bagi pembaca, kisah ini menjadi pengingat bahwa suara kolektif yang disampaikan dengan tegas dan konsisten dapat mengguncang sistem yang paling kaku sekalipun. Tribun Kop membuktikan bahwa kesetiaan pada sebuah klub bisa berjalan seiring dengan perjuangan panjang menuntut kebenaran, dan bahwa keadilan bagi 96 korban akhirnya tidak lagi menjadi urusan satu kota saja.