Liga Champions Wanita musim ini benar-benar terbuka untuk siapa pun. Klaim semacam itu memang kerap muncul setiap tahun, tetapi kali ini ada dasar yang kuat: Barcelona, juara bertahan yang sudah mengoleksi empat gelar dalam enam tahun terakhir, menjalani perubahan besar pada bursa transfer musim panas. Fase liga edisi terbaru kompetisi ini pun dimulai dengan ketidakpastian, intrik, dan nuansa persaingan yang terasa jauh lebih hidup dibandingkan musim-musim sebelumnya.
Perombakan di kubu Barcelona otomatis mengubah peta kekuatan di Eropa. Raksasa Spanyol itu tetap menjadi tim yang harus dikalahkan, tetapi sejumlah pesaing besar kini melihat celah yang lebih lebar untuk menjatuhkannya. OL Lyonnes, Bayern Munich, serta trio wakil Inggris — Arsenal, Chelsea, dan Manchester City — disebut sebagai kandidat yang punya kedalaman skuad dan sumber daya untuk menggoyang dominasi Barcelona sepanjang musim ini.

Barcelona Tetap Jadi Tim yang Harus Dikalahkan
Barcelona kehilangan empat pemain yang menjadi starter ketika mereka memastikan gelar pada final musim lalu. Ona Batlle pindah ke Arsenal, Salma Paralluelo bergabung dengan OL Lyonnes, sedangkan Alexia Putellas dan Mapi León melanjutkan karier di London City Lionesses. Komposisi skuad mereka kini jauh berbeda dari sosok menakutkan yang tampil dominan di Oslo saat gelar itu diraih lewat kemenangan 4-0.
Meski begitu, Barcelona masih merupakan tim yang harus dikalahkan. Mereka tetap memiliki skuad berkualitas dengan deretan nama bintang, termasuk Aitana Bonmatí, peraih tiga Ballon d’Or terakhir. Bonmatí sendiri diragukan tampil pada laga pembuka melawan Paris FC karena cedera, situasi yang tentu tidak ideal bagi juara bertahan pada awal kampanye mereka.
Selain Bonmatí, Barcelona masih diperkuat Ewa Pajor, pencetak gol terbanyak kompetisi musim lalu, serta kapten tim Patri Guijarro, gelandang timnas Spanyol. Kekuatan itu membuat mereka hanya bisa dijatuhkan oleh tim sekelas dunia. Namun, aura tak terkalahkan yang dulu menyertai Barcelona tampaknya tidak lagi sekuat sebelumnya.
OL Lyonnes dan Misi Merebut Kembali Gelar
OL Lyonnes menjadi salah satu tim yang paling berpotensi memanfaatkan situasi tersebut. Klub yang belum meraih gelar Liga Champions Wanita sejak 2022 itu menjalani jendela transfer yang terbilang sukses. Mereka mendatangkan Paralluelo, yang mencetak gol pertamanya untuk klub pada Jumat saat menang 8-1 atas Le Havre, serta gelandang timnas Skotlandia Caroline Weir, yang bergabung setelah empat tahun membela Real Madrid.
Bagi Lyon, mengangkat kembali trofi Eropa bukan sekadar urusan prestise. Mereka adalah pemegang rekor gelar terbanyak dengan delapan trofi, sehingga penantian sejak 2022 terasa cukup lama untuk ukuran klub sebesar itu. Penambahan pemain di lini serang dan lini tengah menunjukkan ambisi mereka untuk kembali bersaing di level teratas, bukan sekadar bertahan di posisi yang sudah ada.
Gelar Liga Champions Wanita akan menjadi pencapaian besar bagi pemilik klub, Michele Kang, yang juga memiliki Washington Spirit dan London City Lionesses. Hal serupa berlaku bagi pelatih kepala Jonatan Giráldez, yang berpeluang memenangi kompetisi ini bersama tim kedua setelah sukses berturut-turut bersama Barcelona pada 2023 dan 2024.
Trio Inggris dan Bayern Munich Ikut Menantang
Bayern Munich layak diperhitungkan, begitu pula tiga wakil Inggris. Arsenal, Chelsea, dan Manchester City dinilai memiliki kedalaman skuad serta sumber daya untuk memberikan perlawanan serius. Persaingan di antara mereka sendiri juga akan menentukan seberapa jauh salah satu klub Inggris bisa melangkah di kompetisi ini.
Arsenal, juara pada 2025 dan sebelumnya pada 2007 ketika kompetisi ini masih bernama Women’s Cup, tetap menjadi satu-satunya klub Inggris yang mengoleksi trofi besar Eropa. Fakta itu terasa janggal jika dibandingkan dengan besarnya belanja klub-klub Women’s Super League (WSL) dan persaingan liga tersebut dengan NWSL dalam memperebutkan status tidak resmi sebagai “liga terbaik di dunia”. Tiga klub paling sukses di WSL sejauh ini belum mampu mendominasi Eropa, dan musim ini bisa menjadi titik baliknya.
Arsenal memperkuat kedalaman skuad pada musim panas ini, terutama lewat kedatangan Georgia Stanway dari Bayern dan Batlle dari Barcelona. Kemampuan mereka menurunkan pemain internasional kelas atas dari bangku cadangan di hampir setiap posisi membuat Arsenal berpotensi menjadi kekuatan yang sesungguhnya. Kedalaman itu penting karena fase liga menuntut konsistensi, bukan hanya kualitas sebelas pemain utama.
Manchester City, juara domestik Inggris, sempat mencapai perempat final pada 2025 tetapi gagal mengulanginya pada musim berikutnya. Kondisi itu membuat mereka punya sesuatu untuk dibuktikan sekaligus keinginan mengejar waktu yang terbuang. Mereka juga tidak tampil di Eropa pada 2023-24 dan gagal melewati babak kualifikasi pada musim 2021-22 serta 2022-23, ketika tersingkir oleh Real Madrid.
Sebelum itu, langkah City juga dihentikan Atlético Madrid pada 2018-19 dan 2019-20, sehingga mereka belum kembali ke semifinal sejak 2017-18 — rentetan yang dulu terasa sulit dibayangkan. City bersyukur bisa mempertahankan Khadija Shaw, pencetak gol terbanyak WSL, dan menarik menantikan aksi striker timnas Jamaika itu di kompetisi antarklub terbesar Eropa. Kampanye mereka dibuka dengan ujian berat tandang ke markas Bayern, laga yang akan jadi indikator awal kesiapan mereka.
Sementara itu, Chelsea baru sekali mencapai final, yakni pada 2021 ketika dikalahkan Barcelona, dan mereka tentu ingin kembali ke panggung puncak. Final musim ini dijadwalkan berlangsung di stadion nasional Polandia di Warsawa pada Mei. Kesempatan itu menjadi motivasi tersendiri bagi Chelsea untuk tampil lebih konsisten sejak fase liga.
Real Madrid, Absennya Nama Besar, dan Wajah Baru
Real Madrid memperkuat lini serang mereka dengan merekrut Felicia Schröder, pemain terobosan pada Women’s Europa Cup musim lalu, dari juara Swedia Häcken. Mereka membuka kampanye di kandang melawan Paris Saint-Germain. Duel tersebut menjadi salah satu laga yang layak disimak pada pekan-pekan awal fase liga.
Bagi banyak penggemar, terasa agak janggal melihat Liga Champions Wanita bergulir tanpa Putellas, yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu nama terbesar di kompetisi ini. Hal serupa juga dirasakan dengan absennya Wolfsburg. Klub dua kali juara itu kehilangan catatan 14 tahun berturut-turut tampil di kompetisi ini — yang pada satu titik mencakup 11 perempat final beruntun — setelah kalah adu penalti dari Inter di babak kualifikasi.
Inter menjadi salah satu dari tiga klub Italia yang lolos ke fase liga, jumlah terbanyak dari Serie A pada tahap ini sepanjang sejarah kompetisi. Austria Wien, bersama Inter, adalah tim yang baru pertama kali menembus fase liga. Kehadiran mereka menambah warna baru pada kompetisi yang musim ini terasa lebih merata dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.
Format Liga Champions Wanita dan Jalan Menuju Perempat Final
Fase liga diikuti 18 tim dan berlangsung hingga 16 Desember. Empat tim teratas melaju langsung ke perempat final pada Maret, sementara tim yang finis di peringkat kelima hingga ke-12 harus melewati playoff fase gugur pada Februari. Format ini membuat setiap poin berarti, sebab posisi di klasemen menentukan apakah sebuah tim melaju lewat jalur singkat atau menempuh rute yang lebih panjang dan melelahkan.
Bagi tim-tim penantang, format tersebut sekaligus membuka peluang sekaligus menuntut konsistensi. Satu kekalahan tidak langsung memupus kans, tetapi rangkaian hasil buruk bisa memaksa sebuah tim bermain di playoff tambahan. Sebaliknya, bagi Barcelona, menempatkan diri di empat besar sejak awal akan memberi mereka waktu istirahat lebih panjang sebelum babak gugur dimulai.
Dengan persaingan yang kian ketat, fase liga musim ini berpotensi menyajikan kejutan-kejutan kecil sebelum final di Warsawa pada Mei. Semua tim yang disebut sebagai penantang harus membuktikan diri di lapangan, bukan hanya di atas kertas.
Perubahan besar di skuad Barcelona membuat Liga Champions Wanita musim ini tidak lagi terasa seperti kompetisi satu tim. OL Lyonnes ingin mengakhiri penantian sejak 2022, sementara Arsenal, Chelsea, Manchester City, dan Bayern Munich berambisi membuktikan bahwa dominasi Spanyol bukan hal yang tak tergoyahkan. Jawabannya akan mulai terlihat sejak fase liga bergulir hingga partai puncak di Warsawa.