Turnover pemain Manchester City musim ini menyentuh angka 37,2 persen, sebuah level perombakan skuad yang nyaris tidak pernah terjadi selama satu dekade Pep Guardiola menangani klub. Artinya, lebih dari sepertiga menit bermain City di Premier League musim lalu harus diisi oleh wajah-wajah baru. Enzo Maresca, sosok yang dipercaya meneruskan warisan Guardiola, kini dituntut meremajakan skuad sekaligus tetap meraih kemenangan di setiap pekan.
Posisi Maresca berbeda jauh dari Arne Slot saat pertama kali menukangi Liverpool. Slot diuntungkan karena mewarisi skuad yang utuh dari Jürgen Klopp dan tak perlu buru-buru membangun ulang. Maresca justru harus mengawal evolusi besar di City, dan meski pendekatan itu belum sampai menggerus poin mereka di Premier League, sejumlah tanda bahaya muncul menjelang derby di Old Trafford akhir pekan ini.

Angka di Balik Turnover Pemain Manchester City
Untuk memahami seberapa besar perombakan yang terjadi, kita bisa memakai hitungan menit bermain. Satu klub yang menurunkan 11 pemain selama 90 menit penuh dalam 38 pertandingan Premier League mengumpulkan total 37.620 menit pemain. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.998 menit yang diisi pemain City pada musim 2025-26 kini harus dicoret karena mereka tidak lagi tampil untuk klub di kompetisi liga musim ini — dan sebagian besar memang sudah hengkang. Proporsi itulah yang menghasilkan angka turnover 37,2 persen.
Sebagai perbandingan, selama 10 musim Guardiola, rata-rata angka turnover City hanya 14,5 persen. Empat kali dalam periode itu, nilainya bahkan tidak pernah melewati 7,5 persen. Pola yang terbentuk jelas: hampir semua pemain yang menyumbang menit bermain signifikan pada satu musim akan tetap ada di musim berikutnya. Stabilitas semacam itu kini hilang, dan Maresca harus bekerja dengan materi skuad yang berganti hampir sepertiganya dalam satu kali pergantian musim.
Latar Belakang: Stabilitas yang Mulai Retak di Era Guardiola
Menarik dicermati bahwa retakan pada stabilitas skuad City sebenarnya sudah mulai terlihat di musim terakhir Guardiola. Sebelum itu, ada rentang tujuh musim di pertengahan masa kepelatihannya yang menjadi periode paling solid, ketika komposisi tim nyaris tak berubah dari tahun ke tahun. Fondasi itulah yang membuat City bisa bersaing di banyak kompetisi secara bersamaan tanpa kehilangan kohesi permainan.
Ketika era itu berakhir, sejumlah pemain kunci yang menjadi tulang punggung kesuksesan klub ikut meninggalkan Etihad. Mereka bukan pemain pelapis, melainkan figur yang sudah mencatat ratusan penampilan dan memahami betul cara bermain City. Mengganti pemain sekaliber itu tidak bisa dilakukan hanya dengan mendatangkan nama-nama mahal; dibutuhkan waktu agar pemahaman taktik dan chemistry antar pemain terbentuk kembali.
Justru di fase inilah Maresca mengambil alih. Ia tidak hanya menghadapi tekanan untuk menang, tetapi juga harus menyusun ulang hierarki di dalam skuad. Kombinasi keduanya membuat pekerjaannya jauh lebih rumit dibandingkan pelatih mana pun yang pernah menangani City dalam satu dekade terakhir.
Deretan Nama yang Hengkang dan Rekrutmen yang Bermasalah
Sejak Mei, daftar pemain yang meninggalkan City cukup panjang. Bernardo Silva dan Rodri termasuk yang paling disesali karena keduanya menjadi pilar utama dan tampil dalam ratusan pertandingan sebelum pergi. Nico González hanya bertahan sekitar 18 bulan, sementara Tijjani Reijnders lebih singkat lagi; ia datang, sempat menang besar atas Wolves, tetapi jarang memberi dampak di laga lain, dan kini bermain di Saudi Pro League.
Dua nama lain, Omar Marmoush dan Sávio, yang di antara keduanya mencatat 50 penampilan sebagai starter di liga, dikirim ke Tottenham. Kekuatan finansial City memang sebagian besar melindungi klub dari kerugian akibat transfer yang gagal, tetapi pola perekrutan mereka dalam beberapa waktu terakhir dinilai bermasalah di banyak sektor. Menumpuk pemain tanpa memberi mereka waktu adaptasi yang cukup hanya memperbesar beban perombakan di musim berikutnya.
Pengecualian yang Menghibur
Tidak semua pendatang baru gagal. Marc Guéhi dan Antoine Semenyo hanya bermain setengah musim 2025-26 untuk City, namun keduanya langsung mengamankan tempat di starting XI pilihan utama. Kecepatan adaptasi mereka menunjukkan bahwa perekrutan bisa berjalan mulus asalkan pemain ditempatkan pada peran yang jelas sejak awal.
Ada pula Jérémy Doku, pemain kunci musim lalu yang belum tampil di liga pada musim ini. Kembalinya Doku dari cedera akan menaikkan tingkat retensi menit bermain City, meski jumlahnya tetap tidak cukup untuk membawa mereka menyamai rata-rata Premier League yang berada di angka 31,9 persen. Artinya, selama beberapa pekan ke depan, Maresca masih harus mengelola skuad yang relatif belum matang.
Ujian Melawan Coventry dan Derbi Old Trafford
Laga menghadapi Coventry menjadi gambaran nyata dari masalah ini. Sebagian besar orang memperkirakan City akan menghancurkan lawannya, dan pengguna Fantasy Premier League akhir pekan lalu mencetak rekor dalam jumlah pemain yang memakai opsi triple captain sekali pakai untuk melipatgandakan poin. Lebih dari 91 persen memakai bonus tersebut untuk Erling Haaland dengan harapan terjadi hujan gol. Haaland memang mencetak gol, tetapi itulah satu-satunya gol dalam pertandingan yang berjalan jauh lebih ketat dari dugaan banyak orang.
Coventry tercatat memiliki peluang senilai 1,37 xG menurut Opta, yang berarti mereka layak mencetak gol. Statistik yang lebih mencolok adalah 12 tembakan yang dilepaskan tim tamu. Selama satu dekade Guardiola, tim tamu di Etihad baru 17 kali menembus angka tersebut di Premier League, dan tidak satu pun dari mereka merupakan tim yang baru promosi. Data ini menegaskan bahwa tim yang dihuni banyak pemain baru cenderung lebih rapuh secara struktural.
Starting XI City melawan Coventry sebenarnya penuh nama yang tidak asing, hanya saja sebagian besar dikenal karena pencapaiannya di klub lain. Rayan Cherki, misalnya, sudah menjadi pemain dengan masa bakti terpanjang kelima di skuad meski baru bergabung pada musim panas lalu. Dari lima posisi pertahanan kunci — kiper, bek tengah, dan gelandang bertahan — hanya satu yang diisi pemain yang sudah memperkuat City sejak awal musim 2025-26. Komposisi itu bisa saja berbeda jika Enzo Fernández tidak harus tampil menggantikan Nico O’Reilly yang cedera saat pemanasan, tetapi selisihnya tidak akan besar.
Menghadapi derby di Old Trafford, Maresca kemungkinan memakai lebih banyak pemain mapan dibandingkan saat melawan Coventry. Phil Foden tercatat lebih banyak mencetak gol ke gawang Brighton dibandingkan ke gawang Manchester United, dan O’Reilly sudah fit untuk kembali. Merotasi pemain saat menghadapi tim yang relatif lemah adalah satu hal, tetapi mengambil risiko serupa di laga derby jelas berbeda.
Posisi City Dibandingkan Klub Premier League Lain
Dengan ukuran turnover ini, hanya empat klub yang mengalami perombakan lebih besar dari City, yakni Aston Villa, Tottenham, Newcastle, dan Brighton. Keempatnya juga menjadi satu-satunya klub yang bisa menyamai atau melampaui City dalam hal memiliki lima pemain yang mencatat minimal 1.500 menit di liga musim lalu namun belum tampil pada 2026-27. Kesamaan pola ini menunjukkan bahwa pergantian skuad besar-besaran memang sedang menjadi fenomena umum di Premier League.
Bedanya, klub-klub tersebut tidak dituntut bersaing memperebutkan gelar liga atau Liga Champions. City tetaplah tim yang diharapkan berada di jalur perburuan trofi, sehingga setiap ketidakkonsistenan akan jauh lebih terasa. Arsenal, sebagai pembanding, berhasil mempertahankan skuad yang lebih stabil, dan kondisi itu semestinya memudahkan mereka mengejar target besar musim ini.
Rintangan terdekat City adalah derby melawan Manchester United, klub lain dengan tingkat retensi pemain di atas rata-rata Premier League yang kini menempati posisi kelima klasemen. Marcus Rashford tidak masuk hitungan karena musim lalu ia dipinjamkan dan tidak tampil di Premier League. Menghadapi tim yang komposisinya lebih matang, City tidak bisa lagi mengandalkan kekuatan nama semata.
Terlepas dari hasil di Old Trafford, Maresca tetap harus menyelesaikan tugas yang sejak awal tidak mudah: mengelola skuad dengan tingkat turnover lebih tinggi daripada yang pernah dihadapi pendahulunya. Setiap keputusan rotasi kini punya bobot berbeda, karena pemain yang tersedia belum semuanya memiliki ikatan panjang dengan klub.
Kesimpulan
Turnover pemain Manchester City sebesar 37,2 persen adalah angka yang belum pernah terjadi di era Guardiola dan menjadi tantangan utama Maresca musim ini. Meski belum berbuah kehilangan poin di Premier League, tanda-tanda kerapuhan sudah muncul saat melawan Coventry. Kombinasi kepergian pemain senior, rekrutmen yang belum sepenuhnya berjalan mulus, serta cedera sejumlah nama penting membuat proses transisi ini harus dilalui dengan sangat hati-hati.
Derby melawan Manchester United akan menjadi ujian pertama yang sesungguhnya bagi Maresca dan skuad barunya. Jika City mampu melewatinya dengan baik, proses evolusi ini bisa berjalan lebih tenang. Jika tidak, tekanan untuk mempercepat kematangan tim akan semakin besar, dan Maresca harus menemukan cara agar perombakan besar ini tidak mengorbankan ambisi klub meraih gelar.