Kesuksesan timnas wanita Jepang tidak tumbuh dari ruang hampa. Di balik gaya permainan yang enak ditonton dan kemampuan menundukkan negara-negara besar, ada akademi sepak bola wanita Jepang yang dibangun Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) sejak hampir dua dekade silam. Sistem inilah yang disebut sebagai salah satu kunci mengapa Jepang mampu melahirkan pemain kelas dunia sekaligus menyatukan mereka menjadi satu kesatuan tim yang solid.
Jepang memang terus mendorong batas di sepak bola wanita, baik lewat kesuksesan rutin di Asia maupun kemampuan mengalahkan tim-tim terkuat dunia. Tim berjuluk Nadeshiko itu menjuarai Piala Dunia Wanita 2011 dan kembali mencapai final pada 2015, sementara sejumlah negara yang lebih mapan justru tersingkir lebih awal. Tahun ini mereka menambah trofi dengan menjadi juara Piala Asia Wanita di bawah arahan Nils Nielsen, yang kini telah digantikan Michihisa Kano, dan sebagian besar bintangnya berkarier di luar negeri — 24 di antaranya terikat kontrak dengan klub-klub Women’s Super League Inggris saja.

Tiga Akademi JFA yang Menampung Pesepak Bola Putri
JFA mengelola tiga akademi yang menerima pemain putri dari seluruh Jepang, negara berpenduduk 123 juta jiwa, yakni Fukushima, Sakai, dan Imabari. Satu akademi lain, Kumamoto Uki, khusus menampung pemain putra. Fukushima menjadi yang pertama dibuka pada 2006, disusul Sakai pada 2012 dan Imabari pada 2015.
Shota Mishio, yang pernah menjadi analis timnas saat Jepang menaklukkan dunia pada 2011, belakangan menangani akademi Fukushima. Akademi itu kini berlokasi di Susono City setelah dipindahkan menyusul bencana nuklir yang terjadi beberapa bulan sebelum kejayaan Piala Dunia 2011. Pengalaman panjangnya di sana memberi gambaran bagaimana sistem ini tidak hanya mencetak individu berkualitas, tetapi juga membentuk mereka menjadi unit yang berfungsi untuk timnas.
Pemain putri masuk akademi pada usia 13 tahun dan, selain di Fukushima, lulus pada usia 15 tahun. Khusus Fukushima, “para pemain berada di sini sampai usia 18 tahun,” ujar Mishio, seraya menyebut lembaganya memiliki lima pelatih teknis yang khusus menangani pemain putri. “Kami berada di bawah JFA, kami adalah sekolah pembinaan dengan asrama untuk pemain. Informasi terpenting yang bisa saya sampaikan adalah 25% dari pemain awal kami telah menjadi pemain timnas senior — itu persentase yang sangat tinggi,” tambahnya.
Jejak Lulusan Akademi di Panggung Dunia dan Cara Seleksinya
Pengaruh akademi terlihat jelas dari komposisi skuad Jepang di turnamen besar. Pada Piala Dunia 2023 di Australia dan Selandia Baru, lima dari 23 pemain Jepang merupakan lulusan akademi Fukushima. Setahun kemudian di Olimpiade Paris, jumlahnya naik menjadi tujuh, dan Mishio menunjuk pada apa yang ia sebut sebagai “kemajuan di setiap turnamen”.
Salah satu kisah sukses terbaru datang dari Manaka Hayashi, yang lulus pada 2022. Setelah bermain di dalam negeri bersama INAC Kobe, ia mendapat kesempatan pindah ke klub NWSL, Chicago Stars, pada awal 2025. Jalur masuknya pun tidak mudah, karena seluruh calon peserta harus mengikuti proses seleksi yang ketat.
“Kami semua harus mendaftar, lalu para pelatih datang menonton kami menjalani seleksi,” kata Hayashi. “Bisa ada 100 sampai 200 pemain yang mendaftar, tetapi hanya sekitar setengah lusin yang terpilih, jadi tidak gampang lolos seleksi, ini cukup istimewa.”
Bukan Sekadar Latihan Sepak Bola
Pembinaan di akademi tidak berhenti pada urusan lapangan hijau, karena para pemain juga tetap mendapat pendidikan formal. Menurut Mishio, pemerintah ikut membantu, termasuk melalui dinas pendidikan. Para pelatih memang fokus khusus pada sepak bola, tetapi akademi memiliki program tersendiri untuk bahasa Inggris, bahasa secara umum, bahkan bahasa khusus yang berkaitan dengan istilah-istilah sepak bola.
Hayashi menggambarkan ritme harian yang padat selama menempuh pendidikan di sana. Ia menyebut para pemain bersekolah dari pagi hingga sore, lalu kembali untuk berlatih sekitar pukul empat sampai enam sore. Saat menginjak usia sekolah menengah atas, jadwal sekolah dipangkas menjadi pukul sembilan pagi sampai dua belas siang agar porsi latihan lebih besar, sehingga semakin bertambah usia, semakin banyak waktu yang bisa dialokasikan untuk sepak bola.
Gaya Bermain Teknis yang Ditanamkan Sejak Dini
Pola permainan Jepang ditanamkan kepada para pemain sejak usia muda, dan hal itu diyakini menjadi alasan besar di balik kesuksesan mereka. Hayashi membenarkan hal tersebut. Ia mengingat bagaimana para pelatih sangat menekankan pentingnya kualitas teknis, karena ketika berhadapan dengan tim asing, lawan biasanya lebih cepat dan lebih kuat secara fisik. Jepang pun dituntut bermain lebih cerdas dan mengandalkan kualitas saat menguasai bola agar bisa bersaing dan melampaui negara-negara lain.
Dari sisi kepelatihan, Mishio menyebut dua hal yang paling ditekankan dalam latihan sehari-hari, yaitu teknik dan daya tahan. Keduanya dianggap sebagai poin utama program pembinaan, karena memang menjadi ciri khas gaya permainan Jepang. Kombinasi inilah yang membuat lulusan akademi relatif siap ketika masuk ke level senior, baik di dalam maupun di luar negeri.
Arus Pemain Jepang ke Liga Luar Negeri
Damak dari pola pembinaan ini terlihat pada meningkatnya jumlah pemain Jepang yang menembus liga-liga top dunia. Hayashi sendiri meninggalkan NWSL, kompetisi yang memiliki representasi pemain Jepang cukup kuat, untuk bergabung dengan Juventus pada bulan lalu. Di Inggris, deretan pemain internasional Jepang antara lain diisi Yui Hasegawa yang memperkuat Manchester City dan Manaka Matsukubo, rekrutan musim panas Chelsea.
Mishio mengamati tren serupa dari dalam akademi. Menurutnya, semakin banyak pemain yang ingin berkarier di luar negeri, seperti satu pemain yang baru-baru ini bergabung dengan Feyenoord dan sebelumnya ada pula yang pindah ke Bayern Munich. Meski begitu, tidak semua langsung mengejar klub Eropa, karena sebagian pemain memilih menjadi profesional di Jepang terlebih dahulu sebelum mencoba peruntungan di luar.
Kehidupan Asrama dan Pelajaran Hidup yang Mengubah Karakter
Bagi Hayashi, pengalaman tinggal di asrama akademi memberi bekal yang jauh lebih luas daripada sekadar keterampilan bermain bola. Ketika masuk asrama pada usia 13 tahun, ia hidup bersama pemain tertua yang berusia 18 tahun. Hal itu menurutnya menjadi pengalaman hidup yang besar dan mengajarkan cara berkomunikasi dengan orang-orang dari latar belakang maupun rentang usia yang berbeda.
“Dari sisi sepak bola, itu banyak mengubah saya,” kata Hayashi. Ia menjelaskan bahwa pemandu bakat JFA selalu memperhatikan perkembangan para pemain, tetapi karena mereka menjalani sepak bola setiap hari, peluang untuk membicarakannya dan mempelajarinya jadi terbuka lebar. Mereka menonton pertandingan demi saling membantu menjadi lebih baik dan menganalisis segalanya, dan itulah yang menurutnya membedakan JFA Academy dari klub-klub lain.
Konteks Lebih Luas: Model yang Sulit Ditiru
Jepang cenderung tertutup soal resep kesuksesan mereka, khususnya gaya permainan enak ditonton yang menjadi merek dagang tim putra maupun putri. Namun keberadaan tiga akademi JFA menunjukkan bahwa fondasinya dibangun lewat investasi jangka panjang, bukan lewat solusi instan. Dengan 25% pemain awal Fukushima menembus timnas senior, sistem ini memberikan hasil yang jarang dijumpai di negara lain.
Ke depan, tantangan bagi Jepang adalah menjaga aliran talenta sambil menahan pemain terbaiknya agar tidak sepenuhnya tersedot ke Eropa dan Amerika Serikat. Selama akademi tetap berjalan dan lulusannya terus menembus liga-liga besar, Jepang kemungkinan tetap menjadi penantang serius di turnamen-turnamen mendatang. Bagi negara lain yang ingin meniru, pelajarannya cukup jelas: kesuksesan di level senior dimulai dari pembinaan usia belasan yang terencana dan konsisten.
xPada akhirnya, kisah akademi sepak bola wanita Jepang memperlihatkan bahwa hasil di panggung dunia adalah buah dari proses panjang. Teknik, daya tahan, pendidikan, dan kedisiplinan hidup di asrama dibentuk bertahun-tahun sebelum pemain tampil di Piala Dunia atau Olimpiade. Itulah warisan yang membuat Nadeshiko tetap diperhitungkan, sekaligus alasan mengapa banyak pemainnya kini diperebutkan klub-klub terkemuka di Eropa dan Amerika Serikat.