Seberapa besar perubahan skor yang bisa dipicu oleh satu kartu merah? Pertanyaan itu muncul dari laga antara The Spartans dan Clyde, ketika Clyde memimpin 3-0 hingga menit ke-60 sebelum Logan Dunachie diusir wasit. Hanya 28 menit berselang, kedudukan berubah menjadi 3-3. Keruntuhan itulah yang membuat pembaca bernama Jamie Wills bertanya seberapa besar perubahan terbesar dalam sejarah yang terjadi akibat kartu merah dalam sepak bola.
Pertanyaan semacam ini rutin dibahas dalam rubrik The Knowledge milik The Guardian. Biasanya, pembahasannya berpusat pada comeback tim yang bermain dengan 10 orang. Kali ini sudut pandangnya dibalik: tim-tim yang justru kehilangan keunggulan atau semakin terpuruk setelah salah satu pemainnya dikartu merah. Sepanjang era Premier League dan sejumlah liga Eropa lainnya, contohnya cukup banyak dan menarik untuk ditelusuri.

Contoh Tim yang Tertinggal Lalu Hancur Setelah Kartu Merah
Ada kategori tersendiri untuk tim yang sudah tertinggal, lalu benar-benar hancur setelah kehilangan pemain. Pada 2017-18 di Etihad, Liverpool sudah tertinggal satu gol dari Manchester City ketika Sadio Mané dikartu merah pada menit ke-37 karena tekel tinggi terhadap Ederson. Laga itu berakhir dengan kekalahan telak 5-0.
Dua musim berselang, Southampton tertinggal 1-0 di kandang dari Leicester saat Ryan Bertrand dikartu merah pada menit ke-12. Mereka akhirnya dipermalukan dengan skor 9-0. VVV-Venlo mengalami nasib lebih buruk lagi melawan Ajax pada musim berikutnya, ketika sudah tertinggal 4-0 di kandang sebelum Christian Kum dikartu merah pada menit ke-52.
Menjelang menit ke-60 skor sudah 8-0, dan Ajax menutup laga dengan kemenangan 13-0. Pada musim yang sama, 2020-21, Southampton kembali kalah 9-0 di Premier League, kali ini dari Manchester United di Old Trafford. Skor masih 0-0 ketika gelandang asal Swiss, Alexandre Jankewitz, diusir pada menit kedua. Opta memang tidak mencatat seberapa sering Jankewitz menatap rekan-rekannya beberapa hari setelahnya, tetapi bisa dibayangkan suasana ruang ganti tidak nyaman.
Dampak Kartu Merah dalam Sepak Bola: Keunggulan yang Sirna
Kartu merah yang paling mahal, secara harfiah maupun kiasan, adalah yang memicu tim kehilangan keunggulan. Foggia asuhan Zdenek Zeman yang bermain ngotot sudah unggul 4-1 di markas Atalanta pada Serie A 1991-92 ketika Dan Petrescu menerima kartu kuning kedua pada menit ke-72. Kekacauan pun terjadi setelahnya.
Carlo Cornacchia dari Atalanta mencetak hattrick dalam 14 menit, dan pertandingan berakhir 4-4. Hasil imbang 4-4 yang lebih dramatis terjadi di Premier League 15 tahun lalu, tepatnya laga Newcastle vs Arsenal di St James’ Park musim 2010-11. Seorang pembaca bernama Rein mengaku langsung teringat pertandingan itu karena ia baru pindah ke kota tersebut.
Sebagai orang Belanda, laga itu benar-benar menunjukkan pasang surut menjadi pendukung The Toon sekaligus mengikatnya pada klub, dengan puncaknya adalah gol Cheick Tioté. Arsenal sempat melaju nyaman dengan keunggulan 4-0 di babak pertama, sebelum situasi berubah setelah Abou Diaby dikartu merah pada menit ke-50 karena mendorong Joey Barton.
Arsenal kolaps di kuarter akhir laga. Barton mencetak dua gol, Leon Best menyumbang satu, dan pada menit ke-87 Tioté melepaskan voli indah untuk menyamakan kedudukan. Setidaknya Arsenal membawa satu poin ke London, karena Venezia tidak mendapat hiburan serupa setelah Derby del Veneto pada Desember 2021.
Venezia unggul 3-1 di kandang dari Verona ketika Pietro Ceccaroni dikartu merah pada menit ke-62 karena handball di garis gawang. Gianluca Caprari mencetak penalti yang dihasilkan, lalu Giovanni Simeone mencetak dua gol untuk memberi Verona kemenangan bersejarah. Anda juga layak mengingat penampilan Emmanuel Adebayor saat kembali ke Emirates pada November 2012, yang sempat membawa Spurs unggul cepat sebelum mendapat kartu merah langsung pada menit ke-17 karena tekel berbahaya terhadap Santi Cazorla. Arsenal, yang sebelumnya menang 5-2 atas Spurs di Emirates, menikmati deja vu dengan skor 5-2 lagi.
Klub Pertama dengan Tiga Pemain Mahal
Owen Powell mengajukan pertanyaan lain: apakah Liverpool menjadi klub pertama yang memiliki tiga pemain berharga £100 juta atau lebih? Klub mana pula yang pertama memiliki tiga pemain £10 juta+ dan tiga pemain £1 juta+? Menjawabnya secara pasti cukup sulit karena nilai transfer yang dilaporkan bisa berbeda-beda.
Dengan catatan tersebut, berikut jawaban terbaik yang bisa dihimpun. Ternyata Real Madrid bukan satu-satunya klub Spanyol yang gemar mendatangkan seorang galáctico, karena beberapa klub lain juga pernah menumpuk pemain mahal dalam satu waktu.
£1 juta: Nottingham Forest (1981)
- Trevor Francis (Birmingham City, 1979)
- Ian Wallace (Coventry City, 1980)
- Justin Fashanu (Norwich City, 1981)
Fashanu bergabung dengan Forest pada Agustus 1981, yang memicu penjualan Francis ke Manchester City beberapa minggu kemudian. Ia menjadi pemain £1 juta+ ketiga City setelah Steve Daley dan Kevin Reeves. Francis, Wallace, dan Fashanu sempat berada di skuad Forest secara bersamaan selama beberapa minggu.
£10 juta: Lazio (1998)
- Marcelo Salas (River Plate, 1998)
- Christian Vieri (Atletico Madrid, 1998)
- Ivan de la Pena (Barcelona, 1998)
Barcelona diperkirakan menjadi tim pertama yang mendatangkan tiga pemain seharga £10 juta atau lebih, yaitu Ronaldo pada 1996, lalu Sonny Anderson dan Rivaldo pada 1997. Namun, ketiganya tidak pernah berada di skuad pada waktu yang sama, sehingga rekor ini jatuh ke pihak lain.
£100 juta: Barcelona (2019)
- Ousmane Dembélé (Borussia Dortmund, 2017)
- Philippe Coutinho (Liverpool, 2018)
- Antoine Griezmann (Atletico Madrid, 2019)
Dembélé bergabung ke Barcelona dengan nilai yang dilaporkan £96,8 juta, berpotensi naik menjadi £135,5 juta dengan tambahan. Klub pertama yang mendatangkan tiga pemain dengan biaya muka £100 juta+ tampaknya adalah Chelsea, yaitu Enzo Fernández, Moisés Caicedo, dan Morgan Rogers. Ketiganya sempat berada dalam daftar gaji yang sama pada musim panas ini sebelum Fernández pindah ke Manchester City.
Pemain Bergelimang Trofi (Bagian Kedua)
Pekan sebelumnya, The Knowledge membahas apakah ada pesepak bola yang meraih trofi lebih banyak daripada Marquinhos, yang saat itu telah mengoleksi 41 gelar dan masih bertambah. Jawabannya saat itu adalah tidak ada. Sejak itu, beberapa pembaca mengirimkan nama lewat email, salah satunya legenda Gibraltar, Lee Casciaro.
Karena pertanyaannya tidak membatasi apakah trofi harus diraih di liga besar, penghargaan Casciaro pun layak disebutkan. Menurut Sean DeLoughry, berdasarkan Wikipedia dengan peluang akurasi yang tidak sepenuhnya pasti, Lee Casciaro meraih 23 gelar liga, 15 Rock Cup, 13 Pepe Reyes Cup, dan 11 Gibraltar Premier Cup bersama Lincoln Red Imps, dengan total 62 trofi.
Meski data Wikipedia bisa sedikit meleset, koleksi trofi Casciaro tetap lebih banyak daripada Marquinhos. Casciaro bukan pemain profesional penuh waktu karena ia bekerja sebagai polisi sambil berkarier di sepak bola, sehingga hal itu bisa dianggap mengurangi pencapaiannya. Sean juga menyebut Noel Bailie dari Linfield, mantan pemain semi-profesional lain, sebagai anggota klub 40 trofi yang meraih seluruh gelarnya selama 22 tahun bersama The Blues.
Arsip The Knowledge: Gol dan Gol Bunuh Diri Tercepat
Sam Coare bertanya soal Konstantinos Mavropanos dari West Ham yang mencetak gol melawan Wolves belum lama ini, lalu hanya lima menit kemudian mencetak gol bunuh diri. Ia ingin tahu seberapa cepat “dobel” semacam itu pernah terjadi. Pertanyaan ini sebenarnya sudah pernah muncul pada 2022, ketika Sébastien Haller dari Ajax mencetak gol di kedua gawang dalam rentang empat menit.
Banyak pemain pernah masuk ke klub “mencetak gol di kedua gawang”, tetapi mencari yang lebih cepat dari Haller terbilang sulit. Robert Davies mengirim nama pemain yang menyamai waktu tiga menit Haller, tetapi belum bisa dipastikan apakah ia lebih cepat atau lebih lambat. Apa pun itu, pertandingan Walsall melawan Newport pada 1 Januari berjalan penuh kejadian bagi Conor Wilkinson.
Ia masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-52, mencetak gol dengan sentuhan pertama pada menit ke-53, mencetak gol bunuh diri pada menit ke-56, lalu menyamakan kedudukan pada menit 90+5 dalam laga 3-3. Troy Deeney juga pernah berubah dari pahlawan menjadi biang masalah dalam waktu tiga menit, ketika ia menyamakan kedudukan untuk Watford melawan Manchester United pada menit ke-87 pada November 2015 sebelum mencetak gol bunuh diri pada menit ke-90. Tammy Abraham juga layak disebut karena mencetak hattrick untuk Chelsea lalu menambah gol bunuh diri 14 menit kemudian dalam kemenangan 5-2 atas Wolves pada 2019.
Pertanyaan yang Masih Menunggu Jawaban
Chris menulis bahwa dalam laga imbang di markas Forest, Spurs mencatatkan xG 1,6 meski tidak melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran. Ia bertanya, berapa xG tertinggi dalam satu pertandingan yang diraih sebuah tim tanpa pernah mengarahkan bola ke gawang. Alex Ecob bertanya sejak kapan para penggemar mulai mengenakan replika jersey, karena rekaman lama menunjukkan orang-orang berpakaian biasa dengan sedikit syal atau bendera berwarna tim.
Ia juga ingin tahu apa yang memicu tren tersebut dan apakah ada klub yang memulainya lebih dulu. Matt Cowan mencatat bahwa dari 2007-08 hingga 2017-18, penghargaan pemain terbaik Newcastle United dimenangkan sembilan bek dan dua penjaga gawang. Dari 2002-03 hingga 2018-19, tidak ada penyerang yang memenangkan penghargaan itu, sehingga ia bertanya apakah ada klub dengan rentetan lebih panjang tanpa penyerang atau gelandang yang memenangkan penghargaan serupa.
Dari sekian contoh, kartu merah memang bisa menjadi titik balik yang mengubah arah pertandingan. Sebuah tim yang tampak mengendalikan laga bisa kehilangan kendali dalam hitungan menit, seperti yang dialami Clyde, Arsenal, Venezia, hingga Southampton. Keruntuhan semacam ini menunjukkan bahwa bermain dengan 10 orang menuntut penyesuaian taktis yang cepat, dan tidak semua tim mampu melakukannya.
Sementara itu, pertanyaan pembaca soal transfer, trofi, hingga statistik seperti xG menunjukkan bahwa diskusi sepak bola tidak pernah kehabisan bahan. Setiap laga bisa memunculkan pertanyaan baru, dan jawabannya sering kali tersembunyi dalam detail yang jarang diperhatikan. Itulah yang membuat sepak bola terus menarik untuk dibahas, baik di dalam maupun di luar lapangan.