Langkah Kontroversial Infantino dalam Penjualan Saham Piala Dunia
Gianni Infantino, presiden FIFA, terus mendorong rencana yang menuai kontroversi: menjual sebagian saham kompetisi sepak bola, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta yang terkait dengan lingkaran Donald Trump. Langkah ini disebut Infantino sebagai bentuk demokratisasi sepak bola, namun banyak pihak justru melihatnya sebagai ancaman terhadap independensi olahraga.
Dalam rencana penjualan saham Piala Dunia ini, FIFA menjanjikan dana sebesar $40 juta (sekitar £30 juta) kepada setiap federasi nasional begitu kesepakatan final tercapai. Infantino memberikan tenggat waktu 19 September bagi federasi untuk menyetujui proposal tersebut jika ingin mengakses dana awal $20 juta. Ini adalah langkah paling berani sejak ia menjabat sebagai presiden FIFA satu dekade lalu.

Jika rencana ini disetujui, Infantino akan memperkuat posisinya dalam jangka panjang sekaligus memberikan keuntungan besar bagi para investor. Namun, mengapa ia merasa cukup kuat untuk menjalankan rencana yang begitu kontroversial? Dan apa dampaknya bagi dunia sepak bola?
Dukungan Luas yang Membuat Infantino Percaya Diri
Sejak terpilih pada 2016, Infantino berhasil membangun basis dukungan yang solid dari banyak negara di Afrika, Asia, dan Amerika. Dukungan ini datang seiring dengan kebijakan yang menguntungkan secara finansial, seperti perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim, peningkatan pendapatan komersial, serta program alokasi dana jutaan dolar setiap tahun ke negara anggota.
Dengan lebih dari separuh dari 211 anggota FIFA di belakangnya, Infantino yakin rencana penjualan saham Piala Dunia akan lolos. Sistem voting FIFA hanya membutuhkan suara mayoritas sederhana. Bagi banyak federasi kecil, dana £15 juta yang dijanjikan jauh lebih besar dari pendapatan biasa mereka selama bertahun-tahun.
Keberanian Infantino juga terlihat dari keputusan-keputusan sebelumnya yang ia ambil tanpa voting anggota, seperti pengenalan jeda hidrasi dan pertunjukan musik di babak final Piala Dunia. Hal ini dulu dianggap mustahil saat ia mulai menjabat.
Hubungan Erat dengan Trump dan Lingkaran Kekuasaan
Salah satu kunci kekuatan Infantino adalah kedekatannya dengan Donald Trump. Dana investasi yang digandeng FIFA, Thrive Capital, dipimpin oleh Josh Kushner yang merupakan saudara ipar Ivanka Trump. Selain itu, Greg Maffei, mantan presiden Liberty Media (pemilik Formula 1) yang pernah menyumbang kampanye Trump, bertindak sebagai penasihat komersial utama.
Selama bertahun-tahun, Infantino secara terbuka mempererat hubungan dengan Trump. Ia membuat Penghargaan Perdamaian dan memberikannya kepada Trump, membuka kantor FIFA di Trump Tower New York, dan mengizinkan trofi Piala Dunia Antarklub disimpan di Oval Office. Bahkan, saat pidato pelantikan Trump yang mengancam Kanada dan Meksiko, Infantino ikut tertawa.
Dengan menggandeng orang-orang terdekat Trump, Infantino memanfaatkan ikatan yang telah ia bangun dengan orang paling berkuasa di dunia. Ini menjadi faktor penting dalam mendorong penjualan saham Piala Dunia ke investor swasta.
Keuntungan bagi Infantino dan Investor
Jika rencana disetujui, FIFA akan menerima dana besar sekaligus. Seperti dijelaskan dalam surat Infantino ke setiap negara, dana awal akan tersedia mulai 1 Januari 2027. Ia menulis, “Keputusan apakah akan melanjutkan proposal ini sepenuhnya ada di tangan Anda. Sebagai imbalannya, yang diperlukan hanyalah kepercayaan Anda – sisanya tetap sama.”
Namun, Piala Dunia menghasilkan uang lebih banyak di setiap edisi. Menjual saham sekarang berarti investor swasta akan ikut menikmati pertumbuhan masa depan. Padahal FIFA adalah organisasi nirlaba di bawah hukum Swiss, yang tujuan utamanya adalah kesejahteraan jangka panjang sepak bola, bukan keuntungan.
Miguel Maduro, mantan ketua komite tata kelola FIFA, menyebut rencana ini sebagai bentuk suap legal. “Yang kita tahu tentang cara federasi nasional membelanjakan uang menimbulkan keraguan apakah dana itu benar-benar sampai ke level sepak bola yang dijanjikan FIFA. FIFA bekerja seperti kartel politik,” ujarnya seperti dikutip BBC Sport.
Investasi dari ekuitas swasta telah mengubah olahraga di AS, seperti baseball, basket, dan hoki es. Di Eropa, La Liga dan Ligue 1 juga sudah menjual sebagian operasi mereka ke CVC Capital Partners. Infantino mengikuti tren ekonomi olahraga, namun dengan risiko memperkuat kekuasaannya sendiri.
Konflik dengan UEFA dan Ancaman Boikot
Rencana ini memperdalam konflik antara Infantino dengan UEFA, induk organisasi sepak bola Eropa yang paling kaya dan berpengaruh. Presiden UEFA Aleksander Ceferin memboikot final Piala Dunia sebagai protes terhadap keputusan FIFA yang membatalkan suspensi pemain AS Folarin Balogun setelah intervensi Trump.
Selain itu, FIFA dengan Piala Dunia Antarklub yang baru menjadi ancaman langsung bagi Liga Champions UEFA. Beberapa federasi Eropa marah karena tidak diajak diskusi terlebih dahulu. Namun, BBC Sport memahami banyak anggota UEFA yang marah dan akan mengadakan pertemuan untuk membahas respons.
UEFA telah menyatakan rencana Infantino adalah “menggunakan olahraga kita untuk memperkaya diri sendiri dan teman-teman mereka”. Ada laporan yang menyebutkan ancaman boikot Piala Dunia oleh negara Eropa. Namun, kemungkinan boikot masih diperdebatkan, apalagi Eropa menjadi tuan rumah bersama Piala Dunia 2030 bersama Maroko.
Jika UEFA benar-benar ingin melawan, mereka harus bergerak cepat. Namun, dengan 55 suara dari total 211 anggota, kecil kemungkinan mereka bisa menjatuhkan Infantino dalam pemilihan presiden tahun depan.
Kesimpulan: Langkah Berani yang Sulit Dihentikan
Rencana penjualan saham Piala Dunia oleh Gianni Infantino menunjukkan ambisi besarnya untuk mengonsolidasi kekuasaan dan mendekatkan FIFA dengan lingkaran kekuasaan global. Meskipun menuai kecaman dari berbagai pihak, dukungan dari banyak federasi kecil membuat proposal ini kemungkinan besar akan disetujui.
Dampak jangka panjangnya bisa mengubah lanskap sepak bola dunia, di mana kepentingan komersial dan investor swasta semakin dominan. Infantino saat ini berada di puncak kepercayaan dirinya, dan hanya waktu yang akan membuktikan apakah langkah ini benar-benar menguntungkan sepak bola atau justru merugikannya.