Xabi Alonso Chelsea: Hentikan Kekacauan Pemain Muda

Xabi Alonso Chelsea menjadi sorotan utama pada musim panas ini. Klub London Barat itu akhirnya mengubah haluan dengan tidak lagi sekadar mengandalkan pemain muda, melainkan mulai mendatangkan pemain senior seperti Jordan Henderson dan Danny Welbeck. Kehadiran dua pemain berpengalaman tersebut menjadi sinyal kuat bahwa The Blues berusaha meredam kekacauan yang mewarnai musim lalu.

Perubahan ini merupakan pengakuan tersirat bahwa pendekatan yang selama ini dipakai Chelsea perlu diperbaiki. Meski belum bisa disebut berubah total dari pusat pembinaan menjadi panti jompo, kehadiran pemain senior di ruang ganti diharapkan memberi efek menenangkan bagi skuad yang masih dipenuhi pemain belia. Harapannya, tim asuhan Alonso mampu menunjukkan ketenangan dan kedewasaan saat menghadapi tekanan di lapangan.

Xabi Alonso Chelsea

Masalah Besar Chelsea: 11 Kartu Merah Musim Lalu

Disiplin menjadi momok terbesar Chelsea sepanjang musim lalu. The Blues tercatat menerima 11 kartu merah di semua kompetisi, dan sebagian besar masalah justru berasal dari kesalahan sendiri. Sikap mudah terbawa emosi membuat mereka kerap bermain dengan sepuluh orang, ditambah banyaknya kartu kuning akibat protes berlebihan kepada wasit.

Kondisi itu membuat Chelsea tampil gegabah dan rentan ambruk begitu menghadapi kesulitan. Tidak heran Alonso, yang selama kariernya sebagai pemain dikenal sebagai sosok paling tenang, menjadikan kontrol emosi sebagai fokus utama. Sebelum laga perdananya sebagai manajer melawan Fulham pada Senin nanti, ia sudah menekankan pentingnya menjaga ketenangan dalam situasi sulit.

Craven Cottage: Tempat Kegagalan Mentalitas Chelsea

Laga tandang ke Craven Cottage akan menjadi ujian mentalitas yang sesungguhnya bagi Chelsea. Kandang Fulham memang kerap menjadi saksi kehancuran spektakuler The Blues di era BlueCo. Dua kekalahan 2-1 dari Fulham diwarnai kartu merah, yakni João Félix yang diusir wasit pada debutnya tahun 2023 dan Marc Cucurella yang terkena kartu merah setelah 22 menit bermain musim lalu.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa Chelsea memiliki masalah mental yang berulang di laga tandang. Kegagalan menangani masa-masa sulit inilah yang coba diperbaiki Alonso sejak hari pertama ia tiba. Keputusan merekrut pelatih asal Spanyol itu pun menjadi pengakuan bahwa pendekatan klub sebelumnya kurang tepat.

Xabi Alonso Chelsea: Menghadirkan Otoritas yang Hilang

Secara internal, Chelsea akhirnya mengakui bahwa mereka terlalu meremehkan pentingnya aura seorang pelatih. Graham Potter dan Liam Rosenior dianggap sebagai kesalahan besar karena keduanya tidak mampu bertahan di bawah tekanan. Alonso jelas berbeda, dan kehadirannya diharapkan menghentikan pola kegagalan tersebut.

Pelatih berusia 44 tahun itu membangun reputasinya dengan membawa Bayer Leverkusen juara Bundesliga 2024. Kemampuannya berdiskusi dengan manajemen Chelsea juga disebut sangat meyakinkan, sampai-sampai klub memutuskan memberinya gelar manajer, bukan sekadar head coach. Langkah ini merupakan perubahan dari kebiasaan lama Chelsea dalam menyebut posisi pelatih kepala mereka.

Meski begitu, Alonso tidak mengambil kekuasaan absolut. Ia tetap bekerja dalam struktur yang lebih luas dan berkolaborasi dengan tim rekrutmen yang besar. Namun, kehadirannya jelas memberi kredibilitas pada proyek Chelsea yang sempat nyaris berantakan setelah eksperimen Rosenior berakhir.

Belum Ada Jaminan Sukses di Inggris

Pertanyaan besarnya, apakah kesuksesan di Jerman menjamin Alonso bisa berjaya di Inggris? Leverkusen memang istimewa, tetapi Real Madrid meninggalkan bekas luka baginya. Tidak heran bila banyak pihak menilai Bernabeu bukan tempat ideal bagi pelatih untuk berkembang, termasuk bagi Alonso.

Situasi serupa kini dihadapi Álvaro Arbeloa, yang menggantikan Alonso di Madrid dan kini menggantikan Marco Silva di Fulham. Keduanya sama-sama masih menjadi tanda tanya besar di kompetisi paling ketat di dunia ini. Namun, optimisme mulai tumbuh di sekitar Chelsea menyambut musim baru.

Bisakah Chelsea menantang gelar juara untuk pertama kalinya dalam satu dekade? Jaraknya masih jauh karena musim lalu The Blues hanya finis di peringkat 10. Kelemahan di posisi penjaga gawang masih terlihat jelas, sehingga target finis di empat besar tampaknya lebih realistis.

Rekrutmen Matang: Berhenti Membeli Prospek Muda

Ketidakikutsertaan Chelsea di kompetisi Eropa musim ini justru bisa menjadi berkah tersembunyi. Alonso punya lebih banyak waktu untuk melatih timnya di lapangan. Selain itu, ia juga terlihat fleksibel secara taktik, terbukti dari pergantian formasi antara empat bek dan tiga bek selama pramusim.

Cucurella memang telah hengkang ke Real Madrid, tetapi Marco Palestra yang didatangkan dari Atalanta seharga 43 juta pound dan Pep Chavarría yang diboyong dari Rayo Vallecano dengan nilai 16,3 juta pound bisa dimainkan sebagai wingback. Setelah bertahun-tahun membeli pemain muda berbakat, Chelsea kini mengincar pemain siap pakai. Maxence Lacroix, bek tengah timnas Prancis berusia 26 tahun, menjadi pembelian yang masuk akal dari Crystal Palace.

Sementara itu, Morgan Rogers yang ditebus dari Aston Villa sebesar 117 juta pound bisa bermain di sejumlah posisi di lini serang tengah. Ia berpotensi membentuk duet menarik dengan Cole Palmer yang dalam kondisi segar dan punya motivasi besar setelah gagal masuk skuad Piala Dunia Inggris. Palmer jelas ingin membuktikan bahwa ia pantas mendapat tempat di timnas.

Welbeck dan Henderson: Pemimpin Senior di Ruang Ganti

Talentanya memang selalu ada di Chelsea. Yang menjadi masalah selama ini justru pola pikir dan mentalitas. Dalam sepak bola, sudah menjadi norma untuk memiliki pemain senior yang bijak melindungi para pemain muda, tetapi Chelsea terlalu jauh melangkah ke arah sebaliknya.

Alonso pun disebut sempat mendengar kisah salah satu pendahulunya yang harus berurusan dengan pemain yang lebih mementingkan potong rambut daripada rapat tim. Apa pun kebenarannya, upaya Chelsea mendatangkan Granit Xhaka yang berusia 33 tahun dari Sunderland pada Juni lalu memang terasa tidak sesuai dengan citra klub. Namun, langkah itu justru menegaskan keinginan mereka untuk menambah kepemimpinan di ruang ganti.

Kebutuhan itu akhirnya terpenuhi ketika Welbeck yang berusia 35 tahun datang dari Brighton dengan harga miring dan Henderson yang berusia 36 tahun dibawa gratis dari Brentford. Welbeck mencetak 13 gol liga untuk Brighton musim lalu dan akan menjadi pelapis João Pedro di lini depan.